Tabik untuk Astuti, mantan bos di XL, yang esok atau lusa akan menjalani puasa.
“Jangan berkhotbah padaku tentang rendah hati, biarlah saya melihatnya dalam sikap lakumu” – gubahan dari Leo Toltstoy.
Leo Tolstoy, seorang filsuf dan sastrawan dari Rusia ini ingin mengatakan, “Baik – buruk agama terletak pada perilaku yang menjalani.” Dia bukan tidak percaya pada omongan, tapi omongan manis tak selalu terwujud dalam tindakannya. Mulut dan wujud itu berbeda.
Namanya Astuti, seorang muslim, yang pernah jadi atasanku di XL. Sosok yang cerdas, santun, rendah hati, dan jujur. Dengan tekun dia menjalani fungsinya sebagai pemimpin inspiratif dan tidak pernah ‘show-off’, walaupun Astuti memiliki potensi untuk itu, sebab suaminya seorang Direktur BUMN yang terkenal di Yogya.
Saya yakin, Bu Astuti lahir dari keluarga yang shekinah, yang menempatkan keluarga sebagai pesemaian utama untuk menabur bibit unggul.
Jika seorang anak mendapat bimbingan utuh, terutama teladan hidup dari Ibu atau Ayahnya, tidak akan dia mudah terjerat oleh tipu muslihat cinta diri dan kepalsuan, karena kuasa yang dimiliki, seperti Astuti ini.
Dalam Alkitab, pemimpin pada saat yang sama adalah Imam: ‘man of God’, tidak hanya bertanggung jawab sebagai pemimpin dalam profesinya, tetapi juga sebagai figur yang memberikan inspirasi dan petunjuk bagi rakyatnya. Inspirasi tentang kebaikan dan petunjuk kebenaran. Peran yang sungguh mulia yang membutuhkan lima keunggulan berikut :
- Unggul secara intelektual
- Unggul secara emotional
- Unggul secara sosial
- Unggul secara moral
- Unggul secara spiritual
Apakah tidak boleh sebagian? Tidak. Apa harus unggul? YA, sebab dia adalah ‘man of God’, figur panutan dan inspirasi menuju hidup kekal.
Ibu Astuti yang baik hati, sudah sangat lama kita tak jumpa, tapi saya tidak pernah melupakan, kita pernah satu kapal di XL dan… ‘I will never forget you’.
Selamat berpuasa Bu, di bulan Ramadhan, kebetulan kita berpuasa bersama.
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng

