Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang periasmu
yang terakhir, ternyata
bukan lagi Ibundamu.”
(Didaktika Misteri Kehidupan)
Ibarat Sekeping Koin
Jika hidup dan kehidupan ini dipandang sebagai sebuah rahmat, maka kematian adalah sebuah misteri. Bukankah keduanya dipandang sebagai satu kesatuan yang dapat diibaratkan dengan sekeping koin? Tak ada sisi depan, jika tak ada sisi belakangnya.
Di antara kematian dan kehidupan itu dapat diibaratkan dengan dua orang saudara kembar. Bukanlah secara filosofi juga dikatakan, bahwa barang siapa yang pernah dilahirkan ke atas dunia, ada satu kepastian yang akan dihadapinya, ialah misteri kematian.
Refleksi tatkala Jenazah Didandani
Hari itu, Jumat, 14 Maret 2025 pukul 10.30 pagi, dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan dari jarak sangat dekat jenazah seorang rekan guru didandani oleh karyawati di rumah pembaringan jenazah di kota Kediri.
Menyaksikan peristiwa itu, saya spontan berbisik kepada seorang pelayat yang berada tepat di sampingku, “Di masa kecil dia didandani oleh Ibunya, namun kini, ia didandani oleh orang yang tidak dikenalinya. Sudah di manakah Ibundanya? Tahukah dia, bahwa kini, putranya telah beralih langkah dari dunia ini, di perantauan dan bukan lagi di tempat kelahirannya?”
Sang Perias Jenazah
Bersyukurlah, karena ternyata di saat kematian, kita masih sempat didandani dan dikafani oleh seseorang, baik orang yang dikenal atau orang yang tidak dikenali.
Saya sempat menyaksikan, bahwa setelah jenazah dimandikan, kemudian dicukur kumisnya, dan bahkan wajahnya dirias indah dengan makeup modern. Hasilnya tampak sekeping wajah yang damai dan alami.
Berterimakasihlah Senantiasa
Mari kita berterima kasih kepada seseorang yang masih setia mau mendandani kita kelak. Siapa pun dia dan di mana pun saat itu jenazah kita dibaringkan. Orang-orang yang melayat kita akan kagum menatap sekeping wajah kita yang tampak masih sangat alami itu.
Tuhan, terima kasih kepada sesama manusia yang kelak, masih mau mendandani kami di saat kematian.
Semoga, tangan-tangan terampil dan lembut jemari kasih-Mu itu mau menuntun dan menyertai gontai langkah kami hingga bersimpuh di bawah kursi pengadilan-Mu.
Tuhan, terima kasih atas anugerah kehidupan dan misteri kematian ini.
Yang berasal dari debu tanah itu akan kembali jadi debu tanah.
…
Kediri, 19 Maret 2025

