“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan yang memanggil.”
Allah mengundang kami untuk berdiri dengan penuh takzim di hadapan karya keselamatan-Nya yang terungkap secara hening namun pasti. Dalam Injil, Allah memperlihatkan awal dari rencana itu melalui Zakharia dan Elisabet; dua hamba yang benar, yang hidupnya dibentuk oleh doa, kesetiaan, dan penantian. Dari sebuah keluarga Imam, Ia mempersiapkan seorang Nabi yang akan berjalan mendahului Putra-Nya, sebagaimana dahulu Ia mempersiapkan Simson melalui seorang perempuan mandul yang dipanggil oleh rahmat.
Seperti Manoah dan istrinya dalam Kitab Hakim-hakim, Zakharia dan Elisabet menerima sebuah janji yang melampaui harapan manusia. Seorang anak dijanjikan bahkan sebelum ia dikandung; sebuah perutusan diberikan sebelum kehidupan dimulai. Melalui semua ini, Allah menyatakan, bahwa karya keselamatan-Nya selalu mendahului kami, dan setiap panggilan lahir itu pertama-tama dari dalam hati-Nya sendiri.
Namun, Bapa, bahkan di tempat yang paling kudus: di Bait-Nya, saat mempersembahkan ukupan, di hadapan seorang Malaikat itu Zakharia ragu. Pandangannya beralih ke dalam dirinya: usia, kelemahan, dan keterbatasannya. Walaupun ia setia menjalankan hukum, harapannya goyah di ambang misteri. Dalam peristiwa ini, kami berkaca dan mengenali diri kami juga demikian.
Penazmur mengajarkan doa kepercayaan seumur hidup: “Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung.” Dari sejak kandungan hingga masa tua, Engkaulah harapan kami, gunung batu dan benteng perlindungan kami. Tapi kami mengakui, ketika Engkau bertindak melampaui dugaan kami, sering kali kami menanggapi dengan perhitungan, bukan dengan penyerahan; dengan kehati-hatian, juga bukan dengan kekaguman.
Bapa, kami sering berdoa, tapi tidak selalu dengan harapan. Memohon, tapi tetap menyimpan rencana cadangan kami sendiri. Mendengarkan, tapi diam-diam menentukan sendiri yang ‘masuk akal’ bagi-Mu untuk dilakukan. Seperti Zakharia, kami bisa percaya secara teori, tapi ragu pada saat janji-Mu menuntut kepercayaan penuh kami.
Ya, Bapa, rencana-Mu tidak bergantung pada kepastian manusia. Engkau tetap melanjutkan karya keselamatan-Mu bahkan melalui keheningan Zakharia. Kebisuannya jadi sebuah jeda suci: sebuah rahim permenungan, di mana ketidakpercayaan dimurnikan jadi pujian. Melalui dirinya, Engkau mempersiapkan Yohanes Pembaptis, suara yang berseru di padang gurun untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan.
Demikian pula dalam hidup kami, Bapa, Engkau tetap setia, meski iman kami goyah. Engkau terus bertindak, memanggil, menyiapkan jalan agar Putra-Mu lahir kembali dalam diri kami. Engkau tidak dibatasi oleh kelemahan kami; justru Engkau memilihnya sebagai tempat di mana kuasa-Mu dinyatakan.
Saat kami makin mendekati misteri Inkarnasi, ajarilah kami untuk menghormatinya dengan iman yang utuh; bukan dengan keinginan mengendalikan atau dengan sikap skeptis, melainkan dengan kekaguman, kerendahan hati, dan kepercayaan. Bantulah kami untuk percaya, bahwa Engkau mampu menghadirkan kehidupan di tempat yang tampak mandul, harapan di tengah penantian, dan penggenapan di saat kami mengira musimnya telah berlalu.
Tambahkanlah iman kami, ya Tuhan. Jadikan kami alat yang rela bagi rencana keselamatan-Mu.
Siapkan pula hati kami untuk menyambut Yesus, Imanuel, Allah beserta kita. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

