“Allah mengajarkan kami tentang kepercayaan yang tidak melarikan diri, dan iman yang tahu di mana harus tinggal.”
Daud tidak berbuat salah, tapi jadi sasaran kecurigaan dan permusuhan yang tersembunyi. Dipuji oleh banyak orang, tapi terancam oleh satu orang. Ia memilih untuk tidak membalas, melainkan tetap melayani dengan setia. Kekuatannya bukan pada pembelaan diri, melainkan pada penyerahan diri.
Daud berdoa dan berserah pasrah, “Waktu aku takut, aku percaya kepada-Mu.” Bukan setelah ketakutan itu hilang, melainkan tepat saat ketakutan itu muncul, ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan-Nya.
Dalam Injil, Yesus menapaki jalan yang serupa. Orang banyak berdesakan, mencari kesembuhan dan pengharapan. Pada saat yang sama, perlawanan mulai tumbuh tanpa terlihat. Namun Yesus tidak terguncang. Ia menyingkir, ketika perlu, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk tetap taat pada kehendak Bapa. Ia terus memberikan diri-Nya, menyembuhkan, memulihkan, dan menyelamatkan.
Ya, Allah, kami menyadari, bahwa kepercayaan yang berani lahir, ketika kami tahu di mana harus tinggal. Senantiasa percaya jadi nyata, ketika kami memilih
untuk tetap bersama-Mu, bahkan saat hidup terasa tidak pasti.
Tuhan Yesus, dahulu orang banyak ingin menyentuh-Mu, percaya, bahwa sentuhan kepada-Mu dapat menyembuhkan mereka. Kini Engkau datang lebih dekat lagi.
Dalam Ekaristi, Engkau bukan hanya membiarkan diri-Mu disentuh, melainkan memberikan diri-Mu sepenuhnya. Engkau tinggal bersama kami, bahkan ketika kami lemah, mudah teralihkan, atau tidak konsisten.
Sebagian dari kami datang ke Misa dengan setia. Sebagian ingin, namun belum bisa. Sebagian lagi masih belajar, bagaimana caranya. Engkau tetap Tuhan yang sama: lembut, sabar, dan dekat.
Ajarlah kami untuk percaya kepada-Mu dengan berani
di tengah tekanan hidup sehari-hari. Ajarlah kami untuk tinggal setia bersama-Mu. Kami sadar, bahwa kekuatan kami bukan berasal dari usaha kami, melainkan dari kehadiran-Mu.
Saat kami berdoa, bentuklah hati kami untuk menghidupi yang kami terima: melayani tanpa keluhan, percaya tanpa kecemasan, dan tetap setia, sebab Engkau sendiri tetap tinggal bersama kami.
Terima kasih, Bapa, karena Engkau mengasihi kami bukan berdasarkan kesetiaan kami, melainkan berdasarkan kerahiman-Mu.
Yesus, kami percaya, bahwa Engkau yang tinggal dan menyertai kami, hingga akhir zaman. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

