“God give us a second chance.” – Rio, Scj.
Seringkali kita dihadapkan pada sebuah keadaan. Situasi yang tidak bisa kita kendalikan. Situasi yang memicu emosi, kejengkelan dan kemarahan.
Ketika mengalami hal itu, kita sering tidak sadar. Emosi kita memuncak menguasi nalar, lepas kendali, melakukan kesalahan demi kesalahan, dan kebodohan demi kebodohan.
Ketika emosi naik, kecerdasan kita akan menurun. Akhirnya tindakan yang tidak diiringi dengan kecerdasan, sering kali berujung dengan penyesalan. Kita salah mengambil keputusan, pilihan, dan salah dalam ucapan serta perbuatan.
Kita rasanya ingin mengulang waktu. Andaikan bisa kembali ke masa itu dan mencegahnya agar kesalahan itu tidak terjadi. Andaikan kita bisa mengendalikan emosi dan tidak tergiur dengan godaan itu. Andaikan kita tidak terpengaruh dengan ajakan yang kurang baik itu. Kita pun dibuai dengan beradai-andai.
Tapi sayangnya yang di depan mata itu adalah realita. Ketika kita dihantui oleh penyesalan dan waktu yang tidak bisa diputar kembali. Kita sering menyalahkan diri sendiri, tapi jangan menghukum diri. Karena kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya.
Kita memang tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah yang telah terjadi. Tapi kita bisa melakukan sesuatu hari ini, untuk mengubah dan memperbaiki akhir cerita nanti.
Dalam hidup selalu ada kesalahan, itu manusiawi. Semua orang melakukannya! Daripada hidup dalam penyesalan lebih baik kita melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan. Taruhlah kesalahan itu pada tempat yang lebih besar. Lalu perbesar hati ini, pengharapan, iman, dan perbesar kasih kita untuk kembali kepada Tuhan, karena IA sumber kerahiman dan pengampunan.
Banjiri kesalahan itu dengan banyak kebaikan lewat tutur kata, perbuatan, dan perilaku yang baik. Sehingga kesalahan itu tenggelam oleh banyak kebaikan kita.
Seburuk apa pun keadaan, jika kita mau mengisi hari-hari dengan kebaikan, maka yang buruk itu bisa berubah menjadi baik. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi semua manusia bisa menjadi lebih baik, sampai suatu hari kita siap dan berkenan di hadapan Tuhan.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

