Dulu, di masa kecilku, Natal selalu membawa romantika khas yang membekas, dan masih ada sampai hari ini.
Sering diajak ikut pentas drama Natal di Paroki atau di sekolah. Sutradaranya Suster atau Ibu guru. Dari pentas-pentas drama yang bintangnya sesama teman sekolah, tak sekalipun saya dapat peran utama seperti Yosef, Raja, atau Malaikat. Peran yang sering saya terima adalah peran tanpa nama. Zaman sekarang peran itu disebut figuran.
Figuran berasal dari kata figur yang berarti sosok. Seorang figuran adalah sosok yang tidak diberi nama, tak diberi kepribadian, atau dialog. Karena itu seorang figuran akan tetap menjadi sosok tak bernama atau Mr. X dan tidak akan jadi tokoh dalam cerita.
Kala itu, hati saya tetap senang, walau peran saya hanya sosok tidak bernama. Walaupun posisiku berdiri di bagian luar, saya senang. Sebab saya dekat dan merasa ikut menjaga ‘Palungan’, tempat kanak-kanak Yesus diletakkan. Merasa ikut memberi rasa aman tokoh utama dalam cerita itu.
Dalam hidup ini, tidak banyak, bahkan sebagian besar dari kita tidak dekat dengan Palungan, alias bukan tokoh. Merasa tidak penting, hanya figuran, tidak dikenal, bahkan tidak tahu apa peran kita. Namun begitu, jika ingin berbahagia, hanya ada satu kunci, yakni menjaga relasi dengan tokoh yang ada di Palungan kehidupan ini, Tuhan kita.
Salam sehat.
…
Jlitheng

