| Red-Joss.com | Ketika remaja, saya rajin ikut kegiatan seni tari wayang orang. Sering pentas pada peristiwa nasional seperti Hari Raya Kartini dan Kemerdelaan 17 Agustus. Bahkan pernah juga ditanggap pada hari pernikahan salah satu senior anggota group itu.
Ada satu peran utama yang sering saya lakoni yakni Kresna atau ‘Jlitheng’.
‘Jlitheng’ merupakan sapaan yang khas dari Werkudara (Bima) kepada Kresna, “Jlitheng Kakangku.” Kata ‘jlitheng‘ atau ‘jalitheng‘ merujuk pada warna kulit Kresna. Kata ‘kresna‘ dalam bahasa Sanskerta merupakan kata sifat yang berarti hitam, gelap atau biru tua. Dalam tradisi India, Kresna dikenal pula sebagai Kaladev, dewa berkulit hitam alias The Black Deity.
Dalam dunia pewayangan, Kresna dipercaya sebagai pengayom semua titah di bumi lewat kecerdasannya berpikir dan tutur katanya yang bijak.
Dari bermain peran itu, setahap demi setahap saya belajar, bahwa apapun peran kita dalam kehidupan ini, hanya akan punya arti penting jika bisa mengayomi. Dua kekuatan yang dibutuhkan, untuk dapat mengayomi, kapanpun itu, adalah kecerdasan berpikir dan kebijaksanaan dalam kata maupun tindakan. Seperti yang dimiliki oleh Kresna (Jlitheng), penasehat Pandawa itu. ‘Monggo!’
Salam sehat dan selalu bijak membawa berkat.
…
Jlitheng

