Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Ada banyak model serta cara / ‘modus operandi’ alias ‘cara manusia bekerja’ di atas bumi ini.
Ada yang secara terhormat serta sangat beradab, tapi ada juga, secara ‘brutal’ alias tidak tahu diri. Apalagi, jika cara bekerja brutal ini, justru dilakonkan oleh manusia elit, alias kaum terdidik, kaum intelektual. Ironis, bukan?
Saudara, tulisan kali ini berjudul “Parampok Berdasi” alias Sang Plagiator Intelek.
Dunia edukasi negeri ini, memang identik dengan ‘bau busuk’. Dunia edukasi kita selama ini, dikenal amburadul, tapi juga yang lebih mengerikan ialah praktik kaum terdidik, kelompok intelektual yang getol mencuri. Mencuri alias memplagiasi karya tulis orang lain dan dijadikan sebagai karya tulisnya sendiri. Di dunia perliterasian, aksi konyol ini, disebut “plagiat.”
Saya menurunkan tulisan ini, bertolak dari kolom surat pembaca koran Kompas, Senin, 27 Februari 2023.
Dua figur cerdas sang penulis itu, masing-masing, Rusdi Ngarpan, jalan Nusa Indah, Magersari, Rembang 59214 dengan judul, Darurat Pendidikan. Dan Eduard Lukman, jalan Warga RT 014 RW 003, Pejaten Barat, Jakarta 12510 dengan judul Perjokian Karya Ilmiah.
Saudara sebangsa dan setanah air yang saya muliakan! Antara sedih, kecewa, dan juga heran, koq bagaimana mungkin, kaum intelektual kita masih bersikap abu-abu alias tidak transparan. Koq, tega masih mau menjadi “perampok berdasi”. Ada apa dengan dunia pendidikan kita?
“Quo Vadis,” dunia pendidikan kita, dan quo vadis, sang intelektual kita. Sungguh miris dan memalukan!
Serendah itukah, wahai Saudara sang pengajar mahasiswa? Pantaslah, jika kini, ternyata ada juga praktik korupsi di perguruan tinggi kita.
Maraknya aksi Perjokian Karya Ilmiah di dunia pendidikan kita, ini pun sebuah fakta yang sungguh memprihatinkan.
Saudaraku, semoga, jangan sampai kecurangan akademik ini mewabah dan membudaya. Jika demikian, sungguh kasihan generasi muda kita. Sungguh meragukan kualitas kaum intelektual kita dan tentu hal ini akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan kita.
Semoga para guru dan dosen kita tidak melupakan sejarah, bagaimana tingginya harapan sang proklamator kita, yang menekankan pentingnya ranah pendidikan demi kemajuan sebuah bangsa.
Yang menarik, Tajuk Rencana Kompas (11/2/2023), “Guru adalah mata air tempat warga menemukan inspirasi kebaikan dalam hidup”.
Sejatinya, masyarakat tidak rela generasi muda bangsa ini diajar oleh guru dan dosen yang tidak bisa dipercaya dan diteladani.
Kediri, 3 Maret 2023

