“The boat is my happy and gratitude heart.” – Rio, Scj.
Sebuah perahu itu tidak akan tenggelam, karena air di sekitarnya. Ia tenggelam, karena air yang masuk ke dalamnya. Perahu itu bisa jadi adalah kita. Kita akan tenggelam, karena membiarkan omongan, komentar, masalah dan nyinyiran orang di sekitar kita masuk dalam hidup, pikiran dan perasaan kita terlalu dalam. Itulah yang membuat hidup kita tenggelam.
Dalam hidup ini ada dua jenis rasa sakit.
(1) rasa sakit yang menyakiti, mengecewakan, dan membuat kita menderita.
(2) rasa sakit yang sanggup mengubah hidup kita menjadi di atas rata-rata. Tidak masalah sakit, kecewa, atau menangis, tapi jangan dipendam perasaan itu terlalu lama. Ingat kesusahan sehari cukuplah sehari, besok ada kesusahannya sendiri.
Teruslah berlayar, karena tujuan hidup ini jauh. Jangan biarkan hidup ini tenggelam oleh karena mencari kesalahan dan menyalahkan. Jangan biarkan hidup kadas oleh penilaian, komentar dan nyinyiran orang. Jangan biarkan pula hidup ini tenggelam oleh beban kehidupan. Karena tantangan itu selalu ada. Kegagalan dan keterpurukan itu akan menghiasi kehidupan. Teruslah melangkah. Proses inilah yang akan membuat hidup kita jadi tangguh dan sampai ke tujuan, tempat untuk berlabuh.
Bila kaki ini terasa berat untuk melangkah dan raga mulai goyah, kita mempunyai lutut untuk bersujud. Jika pikiran tak sanggup merangkai kata dalam doa, masih ada jiwa dan roh yang pasrah berdoa. Jika kepala kita juga tidak kuat untuk menengadah, masih ada tangan untuk diangkat mohon pertolongan. Tuhan pasti turun tangan.
Selalu mengandalkan dan menaruh harapan pada Tuhan, karena berlimpah kasih-Nya.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

