Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup sejati adalah hidup yang perlu diperjuangkan lewat suka duka hingga meraih kemenangan.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Para arif bijaksanawan mengajarkan kita, bahwa kesejatian hidup itu akan diperoleh, justru lewat suatu perjuangan dan pertarungan antara suka dan duka; hidup dan mati.
Analogi Perjuangan
Sama halnya dengan nilai karat dari sekeping emas, baru diketahui kualitasnya, justru setelah disepuh lewat panas bara api.
Atau juga sama prosesnya dengan perjuangan sekeping tiram yang cekatan mengeluarkan lendirnya demi membungkus butiran-butiran pasir yang memasuki tubuhnya. Lambat laun akhirnya jadilah sebutir mutiara indah.
Demikian pula pahit getirnya suatu proses perjuangan dari manusia, sehingga ia mampu meraih suatu kemenangan atau prestasi gemilang.
Per Aspera ad Astra
Pada tahun 1861 John James Ingalls mampu menciptakan sebuah adagium, berupa semboyan, ‘per aspera ad astra atau ad astra per aspera’ yang bermakna, lewat bebatuan baru mencapai bintang.
Ini adalah semboyan dari kota Kansas, Negara bagian dari Amerika Serikat.
“Vivere Militare est“
“Hidup adalah suatu perjuangan,” demikian makna dari adagium berbahasa Latin di atas. Maka, dapat disimpulkan, bahwa hidup sejati dan bermakna adalah hidup yang diperjuangkan.
Sang manusia sejati perlu sadar dan tahu, bahwa budaya instan lewat cara serba cepat yang kini sangat digandrungi, justru tidak mendidik manusia untuk mengekspresikan jati dirinya sebagai makhluk yang mampu berjuang.
Nilai yang Hilang
Kini manusia sudah tidak dididik lagi untuk memahami hakikat hidupnya sebagai pejuang handal, tapi justru telah memosisikan dirinya sebagai penikmat hidup tanpa usaha dan perjuangan.
Demikian pula bobot dan nilai keperkasaan dari sebuah kapal, tidak ditentukan di saat ia berlabuh di dermaga, namun justru di saat ia mampu melewati hempasan amukan gelora gelombang di tengah samudra.
Untuk mengetahui karakter sejati seseorang, bukankah justru di saat dia sedang dihadang prahara?
…
Kediri, 10 September 2024

