Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Penyesalan itu selalu Berada di Ujung Fakta.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Sudah sejak dari masa kecil, cukup sering kita dijejali dengan sebuah ungkapan yang berupa sebuah penyesalan, “Sesal kemudian, sungguh tak berguna.”
Mengapa selalu Berada di Ujung?
“Penyesalan itu selalu berada di ujung sebuah dinamika kehidupan riil,” demikianlah ekspresi kekecewaan mendalam yang sempat terkuak dari kedalaman nurani umat manusia mondial.
Sesal
(Mari kita ikuti dengan saksama dan dengan hati terbuka pada kisah yang amat menyedihkan ini).
Seorang gadis belia berusia dua puluh tahun, meminta kepada orangtuanya agar diberi hadiah sebuah mobil mewah pada hari ulang tahunnya.
Apa yang terjadi? Tepat di hari paling bersejarah baginya itu, ternyata kepadanya diberikan sebuah ‘tas kitab suci.’
Tanpa ‘ba bi bu’ tas mungil itu pun dilemparkannya ke sebuah sudut ruangan tamu.
Dengan segera si gadis nekad itu bergegas meninggalkan rumah untuk selamanya.
Tetapi beberapa tahun berselang, terdengarlah sebuah berita yang sangat menyedihkan, bahwa kedua orangtuanya itu meninggal seketika dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat terbang.
Maka, segera dia bergegas pulang ke rumahnya. Dalam suasana perkabungan itu, saat matanya menatap ke dinding kamar duka; dilihatnya tas kitab suci itu masih tergantung sunyi di sana.
Segera diraihnya tas itu dengan jemari bergetar, karena merasa rindu kepada kedua orangtuanya. Apa yang ada di dalamnya?
Didapatinya sebuah amplop mungil berwarna putih. Saat dibukanya, alangkah terperanjat ia, karena di situ pun tersimpan sebuah kunci mobil beserta sehelai kertas tertulis, “Selamat ulang tahunmu, kami cinta padamu! Mobilmu ada di garasi. Ayah dan Ibumu.”
Rm. Jerry M. Orbos, SVD
(Berhenti Sejenak Bersama Tuhan).
Penyesalan itu memang selalu Berada di Ujung
Setelah mencermati dan membaca serta merefleksikan isi dari kisah menyedihkan ini, apa yang terkuak di dalam kedalaman sumur nuranimu?
Apakah perasaan sangat marah? Ataukah merasa kecewa dan sungguh jengkel? Ataukah juga perasaan terharu dan kesedihan mendalam?
Tentu semua itu sangat bergantung dari karakter personal dan tingkat kedalaman emosi Anda. Namun, tentu ada sebuah perasaan yang umum dan mirip, ialah menyesal.
Mengapa hal sesepele ini, akhirnya berdampak sangat jauh dan tragis, bahkan dapat menyisahkan trauma bagi kehidupan?
Jadi, sungguhlah tepat ungkapan bangsa kita, ‘bahwa sebuah penyesalan selalu berada di ujung fakta hidup.’
Didaktika Hidup
- Menyesal kemudian, apa gunanya. Karena nasi telah jadi bubur.
- Si sumbu pendek memang selalu berekses tragis.
- Didiklah nuranimu, laksana engkau mendidik buah hatimu.
“Anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu!” (Amsal 3: 21)
…
Kediri, 28 November 2024

