“Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan rohku.”
Natal memenuhi hati kami, Sabda-Nya menuntun kami melampaui Palungan menuju harga sebuah pemuridan. Anak yang lahir di Betlehem adalah Tuhan yang Tersalib dan Bangkit, dan setiap orang yang menyembah-Nya dipanggil bukan hanya untuk mengagumi-Nya, tetapi juga meneladan hidup-Nya.
Dalam diri Stefanus, kami melihat hidup yang dibentuk oleh yang ia sembah. Penuh rahmat dan kuasa, ia memberi kesaksian tentang Yesus bukan dengan kefasihan manusia, melainkan dengan kebijaksanaan yang lahir dari Roh. Seperti yang Tuhan janjikan dalam Injil, ketika Stefanus berdiri di hadapan para penuduhnya, bukan ia yang berbicara, melainkan Roh Bapa yang berbicara melalui dirinya.
Ketika batu-batu diangkat untuk merajamnya, Stefanus mengarahkan pandangannya ke Surga. Ia melihat yang selalu dilihat oleh iman: Yesus berdiri di sebelah kanan Bapa. Seperti para gembala yang dahulu memandang Surga terbuka dalam kemuliaan, Stefanus mewartakan, bahwa Surga kini terbuka bagi semua yang jadi milik Kristus. Di tengah kekerasan dan penolakan, ia tetap berakar dalam pengharapan.
Bapa, dalam doa terakhir Stefanus, kami mengenali jantung Injil itu sendiri. Sebagaimana Yesus mengampuni dari salib, demikian pula Stefanus mengampuni di saat kematiannya. Ia mengasihi musuh-musuhnya dan menyerahkan rohnya ke dalam tangan Tuhan. Melalui dirinya, kami belajar, bahwa penyembahan sejati berbuah dalam kerahiman, dan bahwa kasih terbukti paling murni justru, ketika menuntut pengorbanan terbesar.
Mazmur hari ini jadi nyanyiannya dan nyanyian kami juga: “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan rohku.” Inilah doa mereka yang percaya kepada-Mu sebagai gunung batu, tempat perlindungan, dan penyelamat. Inilah seruan hati yang dibebaskan dari ketakutan, bahkan dari ketakutan akan kematian.
Ya, Allah setelah Natal ini, anugerahkan kepada kami rahmat untuk menghidupi yang kami rayakan. Ajarilah kami meneladani yang kami sembah, bertahan dalam iman, berbicara dengan keberanian, dan mengasihi tanpa batas. Semoga Terang yang lahir di Betlehem bersinar melalui perkataan, pilihan, bahkan penderitaan kami, sampai kami pun memandang Surga terbuka dan bersukacita dalam hadirat-Mu selama-lamanya.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

