Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang manusia hidup, bergerak, dan ada di atas
relungan sang waktu dan tempat.”
(Amanat sadar atas makna sang waktu dan tempat bagi kehidupan)
Apakah itu sang waktu? Waktu dan tempat itu sungguh tidak dapat dipisahkan.
Keduanya bagai sekeping mata uang koin. Karena tidak akan ada sisi kiri, tanpa ada sisi kanan, dan sebaliknya.
Penunjuk sang waktu.
Apakah riuh riang kokoh ayam di pagi hari, adalah sebuah penunjuk waktu?
Apakah tirai sinar lembut kemerahan mentari yang terbit di saat fajar itu sebagai penunjuk waktu?
Dentuman bunyi bedug Masjid dan nyaring lonceng Gereja, juga sebagai penunjuk waktu?
Tatkala kaki langit kembali memerah dan dihiasi kepak sayap camar senja, juga sebagai penunjuk waktu?
Ya, semua isyarat yang berupa, bebunyian dan tanda-tanda alam pun dapat dikategorikan sebagai penunjuk waktu.
Waktu apa dan untuk apa? Itulah isyarat waktu yang bermakna.
Tentu hal itu berkaitan dengan aspek waktu sebagai saat (momen), untuk bangun dan terjaga dari tidur pulas.
Waktu untuk memulai dan mengakhiri sebuah rutinitas: bersekolah dan bekerja.
Waktu untuk menghadap Sang Al Khalik, untuk berdoa dan bersyukur.
Atau juga sebagai sebuah isyarat, ada atau telah terjadi sebuah peristiwa: kematian, kebakaran, dan insiden lainnya.
Sesungguhnya hidup ini memiliki simbol-simbol dan tanda-tanda penting sebagai penunjuk waktu.
Secara naluriah dan nurani, adanya tata bunyi, serta fenomena alam, juga dapat dikategorikan sebagai penunjuk waktu.
Hal ini pun dapat membuktikan, bahwa kehidupan manusia itu sungguh tidak dapat dipisahkan dengan tata simbol serta fenomena alam.
Bukankah manusia justru hidup, bergerak, serta ada di atas relungan sang waktu?
Maka, kehadiran dan keberadaan “sesuatu” sebagai penunjuk waktu itu merupakan sarana pengingat bagi manusia akan keberadaanya di atas bumi ini.
Jangan kita melupakan, pentingnya pengingat yang satu ini, “Ingatlah ajalmu! (Memento Mori)
Kediri, 14 Maret 2024

