Simply da Flores … Bibir ombak tersenyumhempaskan buih-buih rindumembelai wajah pasir pantaiAdakah rinduku seperti ombak?Mungkin samudra bisa menjawab Lidah api nyala membakarpada tungku damba sanubariKayu hangus menjadi arang dan abuAdakah rinduku api atau arang debu?Mungkin tungku bisa bercerita Ranting pohon kering dan patahmenjelma bersama daun keringgugur di padang dan hutan rimbaMargasatwa hilir mudik di rambutkuApakah…
Kategori: SIMPLY DA FLORES
Serpihan Jejak Musyafir – 138
Serpihan Jejak Musyafir – 137
Menyusuri Perjalanan Nafas
Simply da Flores … Ada awal,ayunan langkah pertamaAda jeda,saat rehat tenang sejenakAda jatuh bangunAda tanjakan,Ada kelokan dan terjalAda akhirketika waktunya pulangkembali menjumpai awaldari angin kepada anginnafas melebur dalam jagat Perjalan hidupadalah kelana nafasadalah ziarah desir darahdalam ruang dan waktuAda batas dan misteriAngin itu ada meski tak terlihatAngin dirasakan, tak tertangkap jemariSaatnya harus usaikelana nafas harus…
Serpihan Jejak Musyafir – 136
Diam, Bisu, Boneka dan Topeng
Simply da Flores … Potret dan lukisanmemang tidak berbicaraTetapi tidak bisu dan tulikarena ungkapkan ribuan katadari Sang Pemotret dan Sang PelukisLalusetiap pemirsa berdialog tanpa kata Diam dan tidak bicaraternyata mengatakan banyak haltermasuk yang dibungkam haknyadan dijahit lantang suaranyaEntah oleh senjata dan uangEntah oleh kekuasaan jabatanEntah oleh kebodohan dan ketakberdayaan Diam memang bukan emasapalagi memilih mogok…
Serpihan Jejak Musyafir – 135
Turut Berduka Cita – RIP
Simply da Flores … Membaca esai tentang sajak puisi kematianyang ditulis pada halaman kehidupanSetiap insan dipaksa menulis sajaknya sendiridengan aneka tanya laradengan air mata dukacitaMereka yang pulang pada asalnyasudah selesai kelana tanyaKita yang masih melangkahi debusering menemui ungkapan jiwa“Turut berduka citaRIP – Beristirahatlah dalam damai” Esai tentang sajak kematianseperti mengkaji debur ombak yang memecahkan buihdan…
Serpihan Jejak Musyafir – 134
Tentang Jempol dan Telunjuk
Simply da Flores … Orang mengacungkan jempolkarena kebutuhannya bisa terpenuhisedangkan hamparan pasir pantaidiam membisu menerima takdirSering diterjang gelombang dan sampah insani Orang mengacungkan telunjuk emosikarena kepentingannya tak tercapaiSedangkan wajah langit terus pasrahdilumuri aneka bentuk polusikreasi nafsu kesombongan manusia Jempol dan telunjuk diperintah pikiranEntah desakan kebutuhan ragawiEntah paksaan aneka selera emosiEntah karena diabaikan nurani sanubariMaka acungan…
Serpihan Jejak Musyafir – 133
Sunyi, Sepi, dan Hening
Simply da Flores Aku mengembara mencari sunyipada bentangan padang rumput ilalangpada bukit dan gunung terpencilpada hutan rimba belantarapada pantai, ombak gelombang samudraNamun,tidak pernah dijumpai sunyi Lalu aku terus mencari sunyikudatangi pondok di ladang petanidijumpai para nelayan tradisionalkutemui para buruh dan pemulungDari dusun kampung dan desa kutelusuri Dankudengar cerita bahwa sunyi ada melintasmenuju ke kota dan…
Serpihan Jejak Musyafir – 132
Trotoar, Jalan Pintas dan Pempers
Simply da Flores … Sepeda motor dan gerobakmelintas melawan arah di trotoarPara pejalan kaki menepiada yang hampir jatuh di selokanDanPempers berserakan di jalanan, trotoar dan selokan kota“Bau tengik kotoran menyengat…Entah siapa yang membuangnya”Ada pesan menarik dari pempersbahwa masih ada anak-anak, balita, bayi dan manula yang hidup di kota iniMereka dipakaikan pempers agar praktis membuang pipis…







