Kita bisa merasakan dari yang dilihat mata. Kita bisa merasakan yang didengarkan telinga. Kita bisa merasakan yang dikatakan oleh lidah dan mulut. Kita juga bisa merasakan yang menyentuh kulit tubuh ini. Hati yang kita miliki itu memang ‘peka’ dan tajam. Hati kita itu harus senantiasa di-‘asah, asih, dan asuh’, supaya hati ini makin tajam untuk…
Kategori: RM. PETRUS SANTOSO, SCJ
Disyukuri dan Dimaknai
Terima kasih untuk suatu pengalaman keramah-tamahan. Terima kasih juga untuk suatu pengalaman penolakan. Mengapa harus berterima kasih untuk kedua pengalaman itu? Kaki-kaki kita selalu bergerak. Hidup kita juga melewati banyak perjumpaan dengan pribadi yang dikenal maupun tidak. Diterima atau ditolak itu biasa. Semua itu tergantung dari sikap kita untuk menikmati dunia ini atau berpetualang? Jika…
Kenyamanan Hati
Ketika kita mampu ‘menemukan diri’ ini, maka ada kenyamanan di hati. Kita tidak ragu untuk melangkah. Kita tidak takut dalam mengambil keputusan. Karena kita telah menyiapkan hati untuk menghadapi setiap konsekuensinya. Ketika kita sudah ‘selesai dengan diri sendiri’, maka ada dorongan kuat untuk berbuat baik. Kita makin semangat untuk berbagi berkat. Kita juga selalu siap-sedia,…
Siapa Sebenarnya yang Dekat Kita?
Kita mudah mengatakan, “Aku dekat dia.” Kita juga sering mengatakan, “Aku peduli dia.” Tapi tunggu dulu…! Yang bisa mengatakan, bahwa kamu sungguh dekat itu adalah orang yang merasakan kehadiran dan cintamu yang tulus. Yang bisa merasakan, bahwa kamu peduli padanya adalah orang yang menerima banyak perhatian darimu dengan tanpa banyak bicara. Jika kita datang mendekat…
Perjalanan Hidup
Saat dilahirkan, aku memiliki dua kaki. Selama 48 tahun, kedua kakiku belajar berjalan, lalu berlari, dan sudah berkeliling di mana-mana. Kadang kedua kakiku beristirahat, karena kelelahan. Setelah 48 tahun, aku kehilangan satu kakiku sebelah kanan. Kakiku harus diamputasi sejak tanggal 6 Maret 2025, karena diabetes. Itu akibat dari pola hidupku yang tidak baik dan pola…
Kisah Orangtua dan Pemuda di Bangku Taman
Mereka berdua duduk di taman menikmati kesendirian, tanpa ada komunikasi. Pemuda itu berpikir jauh melintasi waktu, bagaimana jadi tua dan seperti dia. Sedang orangtua itu tidak tahu yang dipikirkan dan hendak dilakukannya. Mereka berdua duduk berdekatan, tapi tidak saling tahu dan tidak mau mencari tahu. Mereka berdiam diri dengan keterasingannya dalam sunyi. Dia lalu berdoa…
Datanglah ke Kemah Suci-Ku
“Sampai kapan Aku harus menunggu …?” Hari ini, besok, lusa, hingga berganti ke minggu, bulan, dan tahun… Lama sekali engkau tidak datang lagi di kemah suci-Ku. Ada apa denganmu? Marah, kecewa, atau engkau tidak membutuhkan-Ku? Bagaimana dengan rancangan-rancangan-Ku untuk hidupmu dan masa depanmu? Bukankah Aku yang mencipta dan mengaturnya? Bukankah Aku yang menyertai engkau dan…







