Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bukanlah alat-alat yang
engkau butuhkan, melainkan
spirit batiniah dari gurumu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Sesuatu yang Badani akan Binasa
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari unsur jiwa dan unsur badan. Namun, kedua unsur itu merupakan satu kesatuan utuh total dan bukanlah sebagai dualisme.
Tetapi pada sisi yang lain, jiwa kita itu bersifat kekal, namun badan kita tidak. Mengapa? Badan kita akan binasa, dan secara rohani, ia akan kembali melebur menjadi debu tanah sebagai sumber asalnya.
Yang Utama Spiritnya dan bukan Alat-alat
Seorang seniman kaca jendela ternama memiliki seorang murid yang sangat setia yang telah lama berguru kepadanya. Murid itu dapat diandalkan, karena tekadnya yang sungguh besar untuk juga jadi pribadi tenar seperti Gurunya.
Setelah lama ia berguru dan disadarinya, bahwa keterampilannya belum menyamai Gurunya, maka di suatu hari, dipinjamkannya peralatan kerja milik Gurunya. Karena pikirnya, dengan menggunakan peralatan itu, maka ia akan segera menyamai keahlian Gurunya.
Namun apa lacur, setelah dua minggu menggunakan peralatan milik Gurunya, ternyata tingkat keahliannya masih sangat jauh dari harapannya.
“Guru, saya tidak dapat berbuat lebih baik, meski menggunakan peralatan milik Guru,” katanya
“Muridku, bukan alat-alat itu yang engkau butuhkan; melainkan spirit dari Gurumu,” sahut Gurunya.
(Paul J. Wharton)
111 Cerita dan Perumpamaan bagi Para Pengkhotbah dan Guru.
Sebuah Ironi Hidup
Tidak jarang dan bahkan sudah dengan sangat gencar, orang-orang mengejar dan berlomba demi meraih prestasi gemilang, agar jadi pribadi tenar dan kenamaan dalam masyarakat.
Untuk mencapai dan meraih mimpi besarnya itu, maka tidak jarang pula orang-orang akan bersikap nekad memaksakan dirinya agar segera mencapai tingkat serta puncak ketenaran fantastis itu.
Lihatlah pada realitas nan pincang itu di dalam masyarakat kita. Seperti, seorang bocah ingusan yang baru sejam berlatih sepeda, namun dengan tak berpikir panjang ia segera melaju kencang di jalan raya. Hasilnya, ia ditabrak mobil. Juga seseorang yang baru saja menyelesaikan strata satu di fakultas hukum, namun sudah berlagak seperti seorang ahli hukum. Atau juga ada calon doktor yang rela membayar sangat mahal lewat joki kampusnya, hanya agar dirinya segera meraih gelar doktor. Inilah sejumlah tindakan nekad, bukan?
Lewat dan dalam konteks ini, orang-orang ternyata begitu gampang memaksakan dirinya ingin meraih sebuah prestasi dan reputasi, namun ternyata masih jauh dari kualitas ideal.
Mengapa kita cenderung untuk mengejar sesuatu yang sebetulnya itu bukanlah milik kita? Atau sesuatu itu ternyata bukanlah prestasi dan kewenangan kita?
Hal yang Utama dan Mendasar
Bukankah hal yang utama dan mendasar ialah kemampuan serta kualitas pribadi kita? Sesuatu yang sudah mengakar dan membentuk jati diri kita?
Itulah spirit sejati sebagai roh utama di dalam kemanusiaan kita!
…
Kediri, 6 Mei 2025

