Injil mengingatkan kita tentang kepedulian dan kasih Allah terhadap setiap pribadi, sekaligus mengenai pentingnya komunitas dan rekonsiliasi.
Perumpamaan domba yang hilang adalah gambaran indah tentang Allah tidak pernah membiarkan seorang pun dari kita tersesat. Seperti seorang Gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor dombanya di pegunungan untuk mencari satu ekor yang tersesat, demikian pula Bapa di Surga tidak pernah menyerah mencari dan menyelamatkan, ketika kita tersesat. Ini adalah bukti kasih Allah yang tidak pernah berakhir dan kesabaran-Nya yang tak terbatas.
Yesus mengajarkan, bahwa Allah peduli kepada pendosa. Kepada mereka yang tersesat, Ia tidak terburu-buru menjatuhkan hukuman. Sebaliknya, Allah berinisiatif mencari dan membawa mereka pulang. Bukan berarti Dia memaklumi dosa, melainkan Allah merindukan umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya.
Sebagai penerima anugerah pengampunan dari Allah, kita seharusnya menyatakan kasih kepada sesama. Alih-alih menolak dan menjauhi, kita harus menegur, menasihati, dan membimbing sesama kita yang jalannya telah keliru agar mereka kembali kepada Tuhan. Kita diundang untuk jadi komunitas umat Allah yang saling menerima kerapuhan, sekaligus bisa saling menuntun.
“Tuhan, tambahkan iman kami dan sadarkanlah kami, bahwa dosa sebesar apa pun tidak akan mengalahkan besarnya rahmat dan pengampunan-Mu bagi kami. Amin.”
Ziarah Batin

