| Red-Joss.com | Pengorbanan, ‘sacrifice’ ditempatkan sebagai nilai yang tertinggi, sebab pengorbanan diri ini diberikan kepada pribadi yang sangat dikasihi.
Siapa yang siap mengorbankan dirinya dan kepada siapa dia melakukan semua itu?
“Akulah roti hidup yang turun dari surga; siapa pun yang makan roti ini akan hidup selamanya; dan roti yang akan Kuberikan adalah daging-Ku untuk kehidupan dunia (Yoh 6: 51).
Jelas! Siapa yang siap mengorbankan dirinya dan kepada siapa dia akan mengorbankannya.
Pengorbanan diri itu tidak mudah, itu reaksi kita, tapi kita telah melakukannya. Untuk siapa kita bekerja dan melayani?
Jelas! Untuk mereka yang kita kasihi. Lihat, banyak juga pengorbanan yang telah kita berikan. Apakah kita merasakan, bahwa pengorbanan itu pada nilai yang tertinggi? Jika itu benar berarti kita telah memberikan diri kita secara total untuk mereka yang kita kasihi dan layani.
Jika kita berhenti untuk mencari kebahagiaan, kepuasan dan penghiburan untuk diri sendiri, ketimbang untuk orang yang dikasihi dan layani, berarti hal itu belum bisa disebut sebagai pengorbanan. Apa pun alasannya!
Berbeda dengan pengorbanan Yesus yang diberikankan pada kita itu secara totalitas hingga IA wafat disalib.
Kendatipun kita telah berkorban demi pribadi yang dikasihi dan layani. Kita harus terus belajar dari pengorbanan Yesus. Sebab, nilainya ada pada Pengorbanan-Nya yang memberikan hidup kepada dunia dan memberikan jaminan hidup yang kekal bagi yang percaya. Sungguh, suatu pengorbanan yang sempurna!
Semoga pengorbanan kita selama ini benar-benar memberikan kebahagiaan pada mereka yang kita kasihi dan layani.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

