Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Pada zaman Yunani kuno, sezaman dengan filsuf Socrates, (pertengahan hingga akhir abad ke-5 SM), hiduplah para sofis (sofisme), yaitu sekelompok filsuf cendekiawan yang sangat getol berpidato demi “mempengaruhi masyarakat lewat argumen-argumen yang menyesatkan” agar mereka dianggap sebagai orator.
Para sofis (sofistist) ini tidak segan-segan untuk berpidato di jalan, pasar, atau pun di tempat-tempat umum.
Saudaraku, adalah fakta ironis, bahwa “cakar-cakar culas dari roh penyesat” ini, ternyata masih hidup makmur di zaman ini, dan bahkan di negeri kita ini.
Pengkhotbah, siapakah itu? Pengkhotbah itu adalah para pewarta ajaran kebenaran iman. Mereka, orang-orang yang secara khusus bertugas mewartakan kebenaran ajaran Tuhan. Jadi, para pengkhotbah itu adalah suatu jabatan “panggilan profetis kenabian.” Mereka hanya ditugaskan untuk “mewartakan kebenaran dan kebaikan” Tuhan kepada sesama.
Jadi, mereka ini laksana corong-corong hidup berkharismatis yang tulus dan jujur membawakan kabar sukacita.
Saudaraku, apa lacur. Apa yang terjadi kini dan bahkan di negeri kita ini?
Kini, telah hadir dan bergentayangan para pengkhotbah gadungan. “Visi” serta “mission sacre” mereka telah melebar melenceng, meninggalkan rel-rel kebebaran ajaran iman.
Tidak sedikit dari mereka yang diperbudak oleh kelompok serta aliran tertentu demi menaikan gengsi serta beradu nasib dalam berpolitik praktis.
Mereka telah rela jadi corong-corong buas atas nama aliran serta kepentingan terselubung dari barisan kelompok bersakit hati.
Dengan santun dan tampak agung berbalutkan jubah agamis serta dengan merdu melantunkan teks-teks suci, mereka tampil laksana malaikat tanpa sayap.
Lewat khotbah ganas para gadungan ini, justru telah menebarkan benih-benih permusuhan dan sengketa. Mereka telah mencaci, mencabik, dan cerca mencincang sesama yang tidak sealiran dan sehaluan dengan mereka, hanya atas nama kelompok serta aliran terselubung di balik layar.
Mereka ini, bisa jadi, hanyalah orang-orang yang menerima suap demi mengacaukan suasana kenyamanan hidup. Dengan tujuan sesat itu, mereka pun ditugaskan untuk merobohkan kewibawaan serta kehormatan para petinggi masyarakat.
Visi serta misi yang mereka emban via khotbah, hanya berintikan penyebaran virus-virus kebencian, intoleran, serta penyesatan, dengan mengambing-hitamkan sesama demi pemuasan libido ego mereka.
Alangkah keji serta kejamnya mereka, karena peran suci dan mulia ini, justru dipecundanginya lewat tuturan bohong beracun.
“Tuhan, Sang Mahasuci, ternyata, betapa kotor dan kejinya mulut kami ini!”
…
Kediri,ย 13ย Maretย 2023

