Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tak putus dirundung malang”
(Realitas Hidup yang Menantang)
Hidup itu Anugerah
Sesungguhnya, bahwa kehidupan ini bukan sebuah sandiwara, melainkan sebuah realitas yang sungguh menantang dan sangat bermakna. Juga kehidupan ini bukan sekadar sebagai sebuah peristiwa kebetulan belaka, melainkan merupakan sebuah rencana dan rancangan agung dari Tuhan bagi setiap manusia.
Tak Putus Dirundung Malang
Namun, apa hendak dikata, tatkala wajah sejati dari kehidupan yang penuh rahmat ini, justru sering dilumuri duka derita dan linangan air mata, tatkala keadaannya yang bagaikan tidak putus dirundung malang. Ya, laksana terputusnya sebuah pengharapan.
Hati Manusia yang Berpengharapan
Deretan Malapetaka:
- Anda dan saya bisa membayangkan, jika sebuah keluarga yang memiliki seorang putra semata wayang, namun suatu ketika putra itu tewas dihadang bencana alam?
- Sepasang pengantin dan mempelai yang baru saja mengikat janji untuk sehidup semati, namun keduanya seketika tewas ditabrak mobil?
- Seorang pegawai tangan kanan dan kesayangan Anda, karena persoalan sepele, ia nekad meneguk secangkir racun?
Kepada kita telah disajikan tiga buah peristiwa tragis yang sanggup mematikan spirit hidup manusia. Bagaimana remuknya perasaan hati Anda, ketika mendengar, mengalami, dan merasakan, bahwa sungguh, betapa getir serta remuknya hati saat dihadang bercana kematian? Apa yang masih tersisa di dalam dada sadar seorang anak manusia?
Bukankah di saat itu, nurani Anda bagai sedang ditikam sebilah pedang? Itulah tragedi hidup yang sungguh tidak diinginkan oleh siapa saja, namun juga toh nyata, bahwa tidak jarang hal itu dapat terjadi.
Derita yang tak Tergantikan
Jika putusnya temali layang-layang, maka dengan sangat mudah akan segera dapat disambungkan. Namun bagaimana, jika yang putus itu adalah sebuah pengharapan?
Nyata pula, bahwa siapa pun dia, sungguh tidak mudah untuk dapat menerima keadaan yang dapat mematikan spirit hidup manusia. Karena peristiwa dan keadaan ini sungguh memukul mental serta membunuh asa hidup di dalam dada duka seorang anak manusia. Inilah yang disebut sebuah pengharapan yang terputus.
Tumbuhkan Kembali Asa Hidup
Bukankah hanya makhluk manusia yang memiliki sekeping pengharapan? Ya, sungguh, hanya makhluk manusia. Namun, harus diakui pula, bahwa sungguh tidak gampang untuk segera kembali dapat menyalakan sumbu hidup yang telah padam, karena kehabisan stok minyaknya.
Karena sesungguhnya, hal itu pun membutuhkan sebuah keberanian dan keteguhan hati untuk dapat menumbuhkan kembali asa hidup itu.
Sungguh Sulit, namun harus Bisa
Sekali lagi ditegaskan, bahwa sungguh hanya dibutuhkan sebuah keberanian dan keteguhan hati. Anda bisa, justru karena berani.
Jadi, sebuah pengharapan yang telah terputus itu hanya dapat disambungkan kembali oleh keberanian Anda sendiri.
Konklusi
Jika Anda telah sungguh yakin, bahwa Tuhan telah menanamkan benih-benih pengharapan itu di dada sadarmu, maka yakinkan dirimu, bahwa Anda pun bisa!
Kediri, 19 Mei 2025

