| Red-Joss.com | Satu ilustrasi pertemuan doa bagi keluarga yang sudah meninggal.
Pengharapan itu adalah karunia, sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6: 19).
Dalam sebuah pertemuan lingkungan, mendoakan keluarga yang telah dipanggil Tuhan, bertemulah dua orang Ibu yang masing-masing suaminya telah tiada. Mereka berbisik-bisik di sela renungan. Kebetulan duduknya di luar, dekat gang.
Ibu yang pertama bercerita: “Suamiku, Ignas, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Kematiannya tidak banyak diketahui publik, tapi membuat kami, keluarga dan kerabatnya sangat terpukul. Kami merasa begitu kehilangan.”
Ibu yang kedua, berkisah: “Suamiku, Joni, meninggal bersama anak gadis kami, Charitas, ketika pesawat yang mereka tumpangi jatuh di hutan Papua. Tragedi itu dapat sorotan nasional dan internasional.”
Kematian suami-suami itu menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi banyak orang, terutama bagi istri dan keluarganya.
Namun, di samping sedih, ada pula harapan. Kedua istri itu sama-sama memiliki pengharapan yang sangat kuat akan bertemu suami mereka lagi di Surga.
Kejadian setelah kematian suami mereka menunjukkan, bahwa iman Kristiani mereka hidup. Kedua istri itu, yang tak mau disebut namanya, sama-sama bersaksi tentang kedamaian yang telah diberikan Allah bagi mereka. Mereka memberi kesaksian, bahwa pengharapan itu membuat mereka sanggup melanjutkan hidup di tengah-tengah kepedihan yang amat menyakitkan.
Paulus berkata, bahwa “Penderitaan kita sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8: 18). Pengharapan seperti itu hanya datang dari Kristus.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

