Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 13: 21).
Sering kali kita dihadapkan pada konflik dan pengkhianatan yang menimbulkan luka, kebencian, bahkan keinginan untuk membalas dendam. Pengkhianatan dialami oleh Yesus sendiri, seperti dikisahkan dalam Injil Yohanes: Yudas yang menyerahkan Yesus, dan Petrus yang secara tegas menyangkal Dia.
Dari kedua peristiwa ini pengkhianatan Yudas dan penyangkalan Petrus, kita belajar tentang arti pengampunan dan pemulihan. Yesus yang jadi korban pengkhianatan terbesar, justru menunjukkan jalan pengampunan. Ia tidak menyimpan dendam atau mencari pembalasan. Sebaliknya, Ia tetap mengasihi dan melayani murid-murid-Nya.
Pengampunan bukan sekadar melupakan kesalahan, melainkan membuka pintu bagi pemulihan. Mengampuni membebaskan kita dari beban kebencian dan dendam, serta membuka ruang bagi damai dan pemulihan sejati dalam hidup kita.
Marilah kita meneladani Yesus, agar kita mampu mengampuni mereka yang telah menyakiti kita, sehingga kasih dan damai sejahtera-Nya senantiasa berkuasa dalam hidup kita.
Sr. M. Heraberta, P. Karm
Selasa, 31 Maret 2026
Yes 49: 1-6 Mzm 71: 1-6.15.17 Yoh 13: 21-33.36-38
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

