| Red-Joss.com | Tulisan ini saya dedikasikan untuk para pengamen gereja. Mengamen itu satu tiupan asa baru disela-sela lelah.
Dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2 M–Z terdapat kata ngamen, yang artinya yaitu nyanyi dengan iringan salah satu instrumen sambil ke luar masuk kampung, dengan berharap upah ala kadarnya.
Bukan aktivitas ngamennya yang ingin saya share, tetapi tentang ‘hati mereka pada gereja’. Hati yang dipenuhi kerelaan. Kerelaan untuk mau berjerih letih dari satu latihan ke latihan yang lain, dari satu misa ke misa yang lain untuk dapat ambil bagian sebagai Tubuh Kristus dalam mencari genapnya dana demi tegaknya tempat bersujud. Ibarat mulut, mereka bernyanyi untuk meniupkan pengharapan bagi tubuh yang letih. Letih, karena perjalanan panjang Gereja yang memang meletihkan.
Terima kasih untuk para peniup asa, yang tetap meniup, bahkan setelah peluit garis finis dibunyikan.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberi teladan bagaimana menjadi setia pada-Mu. Komunitas pengamen ini tidak pernah bertanya mengapa, bahkan mungkin mereka juga merasa enggan, tetapi tetap bernyanyi sementara banyak dari kami memiliki seribu alasan untuk tidak datang, bahkan bernyanyi untuk lingkungan sendiri.
Terima kasih juga untuk Romo pendamping pengamen ini, yang menyediakan diri tetap berbakti di jalan yang sunyi.
Salam sehat dan tetap berbakti kendati sunyi tepuk tangan.
…
Jlitheng

