“Mengantar naskah novel ke penerbit dengan naik sepeda ontel itu pengalaman paling asyik dan berkesan.” -Mas Redjo
Karena tidak mempunyai uang atau ingin sehat?
Jawaban dua-duanya itu benar. Saya ingin irit dan sehat.
Ide awal saya mengantar naskah novel, karena ingin berolahraga sepeda santai, melihat keadaan Jakarta, dan sehat.
Kebetulan sebelumnya, tetangga depan rumah itu mengajak main sepeda. Ibaratnya, satu kayuhan dua tiga pulau harapan itu terwujudkan.
Bersepeda, karena ingin Kuliah
Pagi hari April tahun 1984, kami berdua dari Kapung Dukuh, Kebayoran Lama mengayuh sepeda ke perumahan MN Jaka Sampurna, Bekasi.
Jarak dari rumah ke penerbit sejauh 25 km itu saya jalani demi mimpi ingin kuliah di Sekolah Filsafat sebagai pendengar non gelar.
Bapak WK yang sebelumnya saya kenal di pamwran buku IKAPI iru tersenyum ramah, ketika melihat kedatangan saya dan teman sambil menuntun sepeda memasuki halaman kantor. Kebetulan ia sedang duduk di teras.
Dua Minggu kemudian, saya menelepon Bapak WK menanyakan kabar novel saya. Puji Tuhan naskah novel diacc. Bahkan, saya disilahkan mengambil dp honor novel itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya seperti kejatuhan hoki. Dengan naik angkutan, pindah mobil 3 kali, saya tiba di kantor TP. Saya memperoleh honor awal Rp 100.000,-
“Saya bakal kuliah!” gumam saya dalam hati.
Ternyata rancangan Tuhan berbeda dengan rancangan saya. Karena uang dp novel yang saya simpan di lemari plastik itu dicuri oleh anak asuh yang kami tampung di rumah. Ia minggat membawa pakaiannya itu tanpa pamit!
Saya malu meminta sisa honor ke penerbit itu, meski butuh mendesak. Sedang minta honor di muka (pinjam) ke redaksi media yang saya kenal juga tidak mungkin, jika tanpa membawa naskah. Sedang kuliah tinggal beberapa hari ke depan dimulai. Alhasil, saya gagal kuliah.
Hikmatnya adalah, sejak saat itu saya rajin nongkrong membeli buku-buku bermutu di tukang loak. Belajar itu tidak harus dibangku kuliah, tapi diniati dari hati dan fokus untuk pengembangan diri.
Mas Redjo

