Fr. M. Christoforus, BHK
“Hati adalah pusat hidup serta inti kesadaran sejati manusia. Segala-galanya akan bergantung dari kualitas sekeping hati manusia itu.”
(Amanat Kualitas Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Hanya makhluk manusia yang diberi sekeping hati dan memiliki kesadaran yang sempurna. Hati nurani, menjadi pusat kesadaran sejati manusia.
Hati manusia dapat jadi segala-galanya, kala manusia mampu bercermin kepadanya.
Hati manusia itu ibarat sebingkai cermin. Tapi apakah ia memantulkan sebingkai cermin bening atau buram?
Semua itu tentu berpulang kepada manusia selaku aktor inteleltual. Dialah pemilik hati itu. Karena hanya dialah makhluk yang berhati nurani.
Dalam konteks ini, sadarkah kita, bahwa ternyata, hati nurani kita, erat berkaitan dengan kecerdasan emosi (EQ) dan spiritual (SQ) kita.
Kita manusia, sudah sangat sering untuk terjebak pada lagu lama, bahwa kecerdasan intelektual (IQ) kita adalah segala-galanya.
Itulah kekeliruan yang telah menjebak manusia, sehingga kita ibarat makhluk yang telah kehilangan rasa dan naluri kemanusiaan.
Ekspresi gerak bola mata, sekeping raut wajah, dan getaran timbre suara manusia, justru jadi gerbang pembuka tabir, siapakah sejatinya manusia itu.
Sungguh, gerak-gerik bola mata dan ekspresi seraut wajah kita, dengan lantang mengatakan, siapa kita itu?
Jadi :
- Bunyi suara kita yang kasar nanar lewat bentakan dan bernada gertakan, justru mengabarkan, bahwa kita sedang marah kepada sesama.
- Genggaman erat pada senjata tajam di tangan ini dan pandangan mata nanar bernyala itu isyarat, bahwa kita berniat menghabisi sesama.
Sesungguhnya begitulah tabiat sejati manusia tak bernurani dan tak berakhlak. Dia sangat doyan memainkan kuasanya.
Itulah yang disebut pendekatan ala manusia bernaluri purba. Sebuah modus operandi bergaya pendekatan manusia nomaden.
Kini kita sadari, bahwa ternyata betapa rapuh dan kerdilnya jiwa manusia papa ini.
Itulah sepintas ciri-ciri pribadi manusia yang doyan menggunakan pendekatan modal dengkul dan bermain kuasa.
Refleksi:
Naluri primitif adalah semburan liar naluri kebinatangan, sejalan hukum rimba raya.
Dengan prinsip utama: siapa yang kuat dan berkuasa, dialah sang pemenang!
…
Kediri,ย 12ย Meiย 2024

