| Red-Joss.com | Kebetulan di kiri depan rumah ada sebatang jambu klutuk, besar, merah dalemnya dan manis rasanya. Buah pertama yang lama ditunggu aman, begitu juga buah yang kedua. Buah ketiga mulai ranum, tidak kami ‘brongsong’ seperti yang pertama dan kedua. Dengan mimpi yang sama besok petik jambu, ‘jebule kecelik’, lebih dulu diserobot codot.
Anak tentu bukan jambu, kerumitan untuk menjaga tidak terkira, tak dapat begitu saja dirasa walau ada ‘béla rasa’. Hanya orangtuanya yang dapat total merasa. Yang lainnya sebatas ikut prihatin.
Sampai kedua orangtuaku tiada, tidak sekalipun bisa saya duga: “apakah bapak simbok bahagia dengan yang telah kami capai?”
Saat ini, walau sebagai orangtua, telah aku tunaikan yang utama, yairu membesarkan (dengan sehat) anak-anak dan menghantar mereka ke jenjang didik memadai untuk masa ini, tak sekalipun kami nanya: “bahagiakah kalian dengan semua itu?”
Amsal 23 tunjukkan hal-hal yang membahagiakan orangtua dalam diri anak-anaknya, yakni:
(1) tak iri dengan sukses orang lain,
(2) tak terjerumus dalam club pemabuk yang malas bekerja,
(3) tak hidup dalam kesemuan,
(4) hidup jujur, punya masa depan.
(5) menjauh dari goda yang nikmatnya sesaat, tapi menghancurkan di akhir dan membinasakan (apakah termasuk pilihan pasangan hidup yang beda iman?).
Intinya: betul yang dikatakan Mbah Buyut: “bahagiaku ada dalam bahagiamu.” Maka menjadi anak-anakku!
Tapi bagaimana, ketika jambu itu, yang esok hari akan dipetik, lebih dulu dipetik codot?
Hanya mereka yang mengalami merasakan. Tetaplah berusaha bahagia jika anak bahagia.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

