| Red-Joss.com | Di sebuah Rumah Sakit tidak jauh dari Jogya, terbaring lemah sepupuku. “Sejak masuk ditempatkan di HCU (High Care Unit) Om, karena komplikasi,” kata Suster Direktur RS itu. Dua kakaknya telah lebih dulu menerima panggilan dan penempatan.
Kita semua adalah musafir yang menunggu giliran penempatan. Kematian hanyalah pemberhentian, yang memastikan, bahwa kita telah cukup diberi waktu. Harinya kapan, kita tidak tahu. Kita bahkan tidak memiliki kuasa apa pun untuk menghindarnya. Tidak mempunyai daya untuk berlari menjauhi kematian. Kita hanya bisa tidak mempercepatnya, karena penentuan tidak ada pada kita. Tapi, ketika nama kita sudah dipanggil, kematian itu datang seperti tamu tak diundang, yang menjemput kita untuk tiba pada perhentian dan memasuki ‘rumah’ yang baru. ‘Rumah’ yang kita bangun selama kita hidup di dunia ini, melalui perbuatan kita. Perbuatan kita di dunia ini akan menjadi warna, seperti apa nantinya.
Rumah itulah tempat kita yang sesungguhnya. Di sini kita hanya seorang musafir yang menunggu antrian kematian.
Taburlah terus benih baik sepanjang antrian hidup di dunia ini, walau rugi dari sudut pandang manusia. Semoga Yang Maha Kuasa berkenan.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

