Oleh : ririz seno
…
| Red-Joss.com | Suasana menjelang pesta demokrasi Pemilu dan Pilpres makin terasa debut persaingannya. Memojokan, mencela, saling tuding antar para pendukung tiap hari bagai panggung hiburan.
Ada juga mereka yang kampanye positif antar pendukung, namun seperti tertelan dengan hingar bingar saling ejek berbalut provokasi. Semua itu kembali pada para pendukung masing-masing kandidat.
“Ah, siapa pun presidennya, kita orang bawah tetap cari makan sendiri. Kita di bawah cakar-cakaran, tapi yang di atas bisa jadi pada saling becandaan”, begitu kira-kira obrolan santai yang kerap kita dengar.
Ingat lagu “Sumbang” ciptaan Iwan Fals? Ia yang terbiasa menciptakan lagu balada dan kritik sosial, lagu “Sumbang” yang dirilis tahun 1983 itu sungguh sangat relevan untuk kondisi situasi saat ini. Simak penggalan syairnya:
Apakah selamanya politik itu kejam
Apakah selamanya dia datang tuk menghantam
Ataukah memang itu yang sudah digariskan
Menjilat, menghasut, menindas, memperkosa hak-hak sewajarnya
Maling teriak maling sembunyi balik dinding
Pengecut lari terkencing kencing
Haruskah kita kehilangan kawan dan hubungan baik itu luntur, karena beda pilihan? Seharusnya, tidak. Pilihan itu tidak harus diteriakkan, dibanding- bandingkan, dan menang-menangan. Berdiam itu juga tidak berarti tak mempunyai pilihan. Karena kita ini bersaudara. Seperti yang sering kita dengar dalam berpolitik, “yang abadi adalah kepentingan.”
Tentang album “Sumbang” Iwan Fals, semua aransemen musiknya digarap oleh Ian Antono dan Abadi Soesman, dan berisi 9 judul lagu di dalamnya. Mereka memang bertalenta sebagai penata musik/ arranger. Sehingga sound yang dipakai pada setiap lagu itu mempunyai roh karakter yang berbeda, dan musiknya memberi warna khas di zamannya. (riz)
…

