Seorang perawat di rumah sakit bekerja dengan sangat baik. Pasien merasa tertolong, keluarga pasien berterima kasih, dan bahkan rekan kerja memujinya. Tapi ia tidak sibuk mencari pujian atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tetap datang tepat waktu, menolong dengan sabar, sopan kepada petugas kebersihan, satpam, dan siapa pun. Ketika ada yang iri atau bersikap tidak adil kepadanya, ia memilih tetap bekerja benar dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Ini merupakan contoh nyata seorang pemenang tetap rendah hati.
Dalam kisah Raja Daud, kita melihat sebuah kemenangan yang tidak melahirkan kesombongan. Daud berhasil mengalahkan musuh dan membawa sukacita bagi bangsa, tapi justru di saat itulah ancaman muncul dari dalam: Raja Saul mulai merasa terancam dan merencanakan pembunuhan terhadap ‘Raja baru’ yang sedang dipersiapkan Tuhan.
Secara manusiawi, Daud mempunyai alasan untuk membalas, mempertahankan diri dengan cara keras, atau menunjukkan kuasa. Tapi Daud memilih jalan yang lebih dalam: ia tetap merendah, tidak membesar-besarkan diri, dan tidak menyepelekan orang lain, bahkan terhadap Saul yang melukai hatinya. Ia tetap menganggap Saul sebagai yang diurapi Tuhan.
Kerendahan hati Daud bukan kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari kesadaran, bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri. Daud tahu, keberhasilan dalam perang bukan semata karena strategi atau kehebatannya, melainkan karena Tuhan yang memegang kendali. Ia tidak menjadikan kemenangan sebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan sebagai kesempatan untuk semakin bergantung kepada Allah. Ketika seseorang yakin, bahwa Tuhan sumber kemenangan, maka ia tidak akan merasa perlu merendahkan orang lain agar dirinya tampak lebih tinggi.
Sikap ini makin terang, ketika kita memandang Yesus Kristus. Dalam Injil, roh-roh jahat mengenali dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Tapi Yesus justru menegur mereka agar tidak menyebarkan berita itu. Mengapa? Karena pengakuan tentang diri-Nya harus dinyatakan pada saat dan tempat yang tepat, sesuai rencana keselamatan dari Bapa. Yesus tidak mengejar popularitas, tidak membangun pengaruh dengan sensasi, dan tidak mencari pengakuan dari suara yang salah. Ia menunjukkan, bahwa kebenaran tidak perlu dipaksakan lewat kemegahan, tapi harus lahir dari kehendak Allah yang teratur dan penuh hikmat.
Yesus terus berkeliling untuk bekerja tanpa henti, mewujudkan tugas-tugas yang berasal dari Bapa: mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, membebaskan, dan membangun iman. Ia tidak berhenti, karena telah dikenal, dipuji, atau diakui. Ia tetap berjalan dalam kerendahan hati, karena fokus-Nya bukan prestasi pribadi, melainkan kehendak Bapa. Inilah pelajaran rohani berharga: bekerja dengan rendah hati berarti tetap setia pada misi, bukan menjaga citra, bukan mengejar keunggulan, bukan mencari tepuk tangan manusia.
“Ya, Tuhan Yesus, semoga ajaran cinta kasih dari-Mu selalu menerangi dan menuntun kami untuk bersikap rendah hati di dalam kata dan tindakan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

