“Cepat beradaptasi dan berubah, karena kita adalah pemenangnya!” -Mas Redjo
Dua Minggu lalu saya dikeluhi oleh pedagang makanan langganan, karena usaha makin sepi. Meski dagangan mereka telah dikurangi dari hari ke hari. Alasan mereka, ketimbang sisa dan rugi. Mereka itu di antaranya: tukang nasi kuning, ketoprak, dan ketupat sayur.
Ekonomi melambat dan usaha lesu itu biasa. Tapi jadi luar biasa, ketika kita sukses menyiasatinya untuk meningkatkan omset penjualan!
Tidak ada gunanya kita berkeluh kesah, karena ekonomi lesu dan sepi pembeli. Mengeluh juga tidak membuat usaha makin membaik, sebaliknya hati ini kian tertekan dan nelangsa.
Sesungguhnya dalam situasi sulit itu, kita diajak untuk berpikir positif, kreatif, dan menyiasatinya agar dagangan jadi laris manis tanjung kimpul.
Dagang lesu itu dipengaruhi banyak faktor, di antaranya sepi pembeli, harga kebutuhan pokok naik, dan pasaran yang jenuh dipenuhi barang sejenis! Sehingga pelaku usaha itu dituntut aktif, kreatif, dan inovatif untuk menyiasatinya.
Kepada pedagang langganan itu, saya meminta untuk sabar, tabah, dan makin mendekatkan diri pada Tuhan.
Dengan bahasa sederhana, saya memberi pengertian agar mereka juga berani berubah untuk belajar berjualan secara online. Kita tidak sekadar menunggu pembeli, tapi menjemput mereka lewat medsos.
Begitu pula dengan menu makanan yang dijual itu tidak harus diganti baru, tapi dilengkapi dan bervariasi. Orang jadi penasaran dan tertarik untuk membeli.
Untuk penjual ketoprak. Menunya ditambah telur dan tempe goreng. Ketupat sayur, dari tahu dan telur, ditambahi telur puyuh. Sedang nasi kuning, sebagian nasi itu ditambah warna hijau daun pandan. Pembeli yang memutuskan untuk memilih sesuai selera.
Tempat berjualan, seperti gerobak itu perlu dipermak, baik bentuknya, diberi ornamen, dicat warna warni, dan seterusnya disesuaikan dengan anggaran serta kemampuan pedagang.
Selamat memulai, beradaptasi, dan berubah demi menyongsong masa depan yang makin baik.
Mas Redjo

