Oleh : Jlitheng
“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Wahyu 3:15).
“Sugeng siang, Bapa. Kalau Bapa ada waktu, kami nanti malam pengin sowan ke rumah, apakah bisa?”
“Bisa, tapi di tetangga sebelah ada latihan koor nanti malam,” jawabku.
Singkat kata kami sepakat. Saya akan dijemput jam 19.00 ke rumahnya. Gayeng dan menyenangkan.
Sebulan yang lalu, tepatnya 19 Juni, gembala kita juga hadir berkunjung ke rumah. Gayeng, tentu dengan warna berbeda: ‘white coffee’.
Sedulur senior lingkungan secara ajek mengunjungi warga yang sakit, lumpuh, dan sepuh. Sebulan sekali diterimakan komuni.
Kehadiran seperti ini sudah kukenal sejak kecil. Secara berkala, pada malam hari Romo Paroki seorang diri menyambangi umat dengan sapaan khasnya: “Berkah Dalem” dan berlalu setelah kami jawab “Berkah Dalem, Romo”, sambil sidak apakah ada umatnya yang ‘main ceki’.
‘Visitasi fraterna’ (istilahku) seperti itu, makin gayeng, jika ada ‘white coffee’ dan sempurnanya ada komuni, sungguh mencairkan hati nan beku di terik sinar matahari kehidupan ini.
“Kunjungan kegembalaan seperti ini sudah jadi pola pastoral tradisional Gereja di banyak tempat yang tetap relevan dan mendapat peneguhan dari cara Allah mendatangi umat-Nya,” Kata Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, Uskup Bogor .
Umat, terutama yang lemah, karena sepuh atau sakit, rindu dan pasti gayeng jika dikunjungi gembalanya. Satu kali kehadiran mempunyai dampak lebih kuat dan awet dari seribu kata indah saat homili.
Homili yang hangat memang dibutuhkan umat dan… akan makin gayeng jika diutuhkan dengan ‘visitasi fraterna’ yang tidak suam-suam.
Sayup terdengar dari gardu satpam: “opo aku salah yen aku kondo opo anane?”
Salam sehat selalu.
Jlitheng

