Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tidak menerima pembesuk, kecuali Ajahn Brahm.”
(Anonim)
Hal yang Lumrah Terjadi
Tidak jarang, biasanya kepada para pembesuk orang sakit, disarankan untuk “tidak boleh bertemu langsung dengan pasien” yang sudah sekarat. Hal ini tentu berkaitan dengan berbagai alasan secara medis.
Menjenguk Orang Sakit
“Bagaimana saudara, perasaan atau keadaanmu hari ini?” Ini adalah sebuah sapaan ‘konyol’. Ya, bukankah pasien memang sudah dalam kondisi konyol secara lahir-batin?
Janganlah Berbasa-basi
Ternyata, ucapan konyol ini, justru akan kian menyakitkan fisik dan mental pasien. Bahkan ucapan ini dianggap sangat tidak sopan bagi pasien. Karena biasanya, pasien itu akan mencoba untuk mulai berbasa-basi alias berbohong hanya demi menghibur Anda dengan jawaban yang konyol pula, “Sejauh ini, saya rasa, kondisi saya sudah lebih baik.” Padahal di sisi lain, justru sangat bertolak belakang dengan kondisi pasien yang sebenarnya.
Maka, usahakanlah agar kita bersikap lebih arif dan cermat saat berada di samping ranjang pasien. Bila perlu, berikanlah sanjungan dan pujian kepadanya agar tumbuh spirit untuk berjuang melawan keadaan atau perasaan sakitnya.
Pengalaman Nyata Seorang Biksu di Australia
Seorang Biksuni Australia sedang sekarat karena menderita sakit kanker di Perth. Sudah sering saya menjenguknya. Tapi, di suatu hari, dia sempat menelepon saya di Wihara agar saya datang menjenguknya, karena merasa saat kematiannya sudah kian mendekat.
Saya segera beranjak menuju ke rumah sakit. Setiba di sana, ternyata ada sebuah tulisan besar di pintu kamarnya, “Tidak Menerima Pengunjung!” Sewaktu saya meminta untuk masuk, resepsionis mengatakan, bahwa Biksuni itu meminta agar tidak seorang pun datang menjenguknya.
“Tapi, saya kan sudah datang dari jauh, khusus untuk menjenguknya,” kata saya kalem.
“Maaf, tapi sesungguhnya, pasien tidak ingin diganggu saat ini.”
“Mana mungkin,” protes saya. “Dia telah menelepon saya, sekitar satu setengah jam yang lalu dan meminta saya datang.”
Akhirnya, bersama perawat itu, saya beranjak ke kamarnya. “Itulah saudara, ada tulisan mencolok itu!”
Tapi, bagitu saya cermati tulisan itu, saya sempat membaca ada tulisan dengan huruf kecil-kecil di sampingnya “Kecuali Ajahn Brahm.” (Itu nama seorang Biksu yang sangat terkenal berkebangsaan Eropa).
Akhirnya, saya diizinkan untuk masuk. Lalu saya bertanya, “Mengapa ada tulisan pengecualian untuk saya saja?”
Pasien itu menjelaskan alasannya, bahwa “Setiap kali teman dan kerabat datang menjenguknya, mereka selalu sudah sangat sedih dan tertekan menyaksikan keadaan saya. Menurutnya, hal itu justru membuat keadaan saya akan kian buruk. Saya tidak ingin memperparah keadaan saya dengan masalah emosional.”
Biksu Ajahn Brahm pun berusaha untuk menghibur dan membuatnya terus tertawa selama berada di sisi ranjang sakitnya.
Didaktika Hidup Kita
Lewat tulisan kecil ini, kepada kita sudah dididik agar “Saat menjenguk pasien di rumah sakit, hendaklah kita berbicara kepada pribadinya dan biarlah penyakitnya itu jadi pembicaraan dokter dan perawatnya saja.”
Dua hari berikutnya, Biksuni ini menghembusian nafas dalam damai.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
Saudara, hal apa yang boleh kita belajar lewat kisah dari Australia ini?
Ingatlah, bahwa saat berada di samping ranjang pasien yang sekarat itu berusahalah untuk mengalihkan perhatiannya ke hal-hal yang dapat menggembirakan hatinya dan bukan memperlihatkan wajah sendu dan duka kita!
Camkan itu!
Refleksi
“Amicus Certus in Re, Incerta Cernitur”
“Sahabat yang Sejati Dikenal di Saat-saat yang Sulit”
(Cicero)
Kediri, 24 Januari 2026

