| Red-Joss.com | Hidup ini anugerah Allah. Tak ada seorang pun yang dapat menolak pemberian-Nya.
Hal itu saya alami, ketika Allah berkenan menolongku. Tanpa tanda-tanda, melalui mimpi, atau sasmita.
Ketika pagi itu saya dipanggil oleh Pak EY. Saya tidak dimintai tolong membeli rokok seperti biasanya, tapi diminta untuk menempati rumahnya yang kosong.
“Kok bengong? Nggak mau,” canda Pak EY.
“Bapak serius?” kata saya kaget, karena tidak percaya.
“Selama ini biasa bercanda, kau jadi tak percaya…,” tawa Pak EY lepas.
Saya jadi kikuk dan makin salah tingkah.
Alasan Pak EY sederhana, daripada rumahnya dibiarkan kosong dan rusak, lebih baik ditempati, dan ada yang mengurusi.
“Untuk ke kantor, kau dapat ikut bus jemputan dari kantor,” jelasnya.
Mulut saya seperti terkunci, karena terharu. Saya tergagap mengucap banyak terima kasih.
Saya menurut dan tidak bertanya lagi, ketika Pak EY meminta saya untuk membuka rekening tabungan di bank atas nama saya, tapi bukunya dipegang oleh Pak EY agar mudah mengontrolnya.
“Jika rumah saya itu sewa perbulan Rp 300.000, berarti kau harus nabung senilai sewa rumah itu.”
Saya takzim dan mengiyakan. Saya sungguh beruntung dan bersyukur. Karena tinggal di komplek dengan karyawan sekantor dan bus antar jemput, sehingga irit transportasi.
Hadiah Spektakuler
Suatu pagi di hari Minggu Pak EY meminta saya datang ke rumahnya. Saya diajak pergi dengan istri dan anaknya ke Bekasi. Semula saya pikir, Pak EY hendak berkunjung ke rumah famili. Ternyata tidak, saya diajak melihat rumah BTN.
“Bagaimana menurutmu rumah ini?” tanya Pak EY tiba-tiba.
“Bagus. Kok Bapak tanya ke saya?” saya memandang Pak EY, tidak memahami maksudnya.
“Karena rumah ini untukmu,” kata Pak EY sambil tersenyum.
Saya kaget, bagai disambar petir di siang bolong.
Singkat cerita, Pak EY membeli rumah itu atas nama saya. DP-nya dibayar dari uang tabungan yang bukunya dipegang oleh Pak EY. Selanjutnya, tabungan yang Rp 300 ribu perbulan itu dialihkan untuk membayar cicilan rumah.
“Jika kau belum siap pindah, rumah ini dapat kau kontrakkan untuk biaya tambahan menyicil,” saran Pak EY.
“Lalu rumah Bapak?”
“Sampai kau bosan menempati,” kata Pak EY senyum.
Hati saya mengharu biru, karena bahagia. Pak EY tidak saudara sekandung, tapi perhatiannya melebihi keluarga sendiri.
Pengalaman 25 tahun yang lalu itu teramat indah, dan tidak bisa saya lupakan sepanjang hidup.
Allah menunjukkan mukjizat lewat pertolongan Pak EY.
Tak henti saya mengucap syukur. Anugerah Allah sungguh dahsyat!
…
Mas Redjo
(Ide cerita EY)

