“Dipanggil oleh Kerahiman, Dibentuk dalam Kasih, Diutus untuk Melayani.”
Sabda Allah mengajak kami masuk lebih dalam ke jantung pemuridan sejati.
Dalam Injil, Yesus naik ke atas gunung dan memanggil orang-orang yang Ia kehendaki. Satu per satu Ia memanggil mereka, dan mereka datang kepada-Nya. Bukan karena mereka paling layak, suci, atau paling kuat, melainkan karena mereka dikasihi, dipilih, dan diundang untuk hidup bersama-Nya.
Seperti Daud dalam gua, yang menolak membalas Saul, meskipun ia memiliki kesempatan. Allah mengajar kami, bahwa jalan-Nya bukan jalan kekerasan, dendam, atau ambisi diri. Daud mempercayakan masa depannya kepada-Nya, dan memilih kerahiman daripada kuasa. Demikian pula, panggilan sebagai murid Kristus dimulai bukan dari apa yang dapat kami ambil, melainkan dari apa yang rela kami lepaskan.
Mazmur hari ini menggemakan sikap hati itu: “Hatiku siap, ya Allah.” Di tengah ancaman dan ketidakpastian, Allah adalah tempat perlindungan kami, kemuliaan, dan harapan kami. Hanya hati yang bersandar penuh kepada-Nya yang mampu setia mengikuti-Nya.
Bapa, sebelum Yesus mengutus Kedua Belas murid-Nya, sebelum Ia memberi mereka kuasa dan tugas perutusan, Ia terlebih dahulu memanggil mereka untuk tinggal bersama-Nya. Untuk dekat, belajar dari hati-Nya. Untuk dibentuk bukan hanya oleh ajaran-Nya, melainkan juga oleh cara-Nya mengasihi, mengampuni, dan menyerahkan diri.
Hal ini tetap berlaku bagi kami yang tidak dapat melayani Kristus, jika kami tidak terlebih dahulu tinggal bersama Kristus. Kami mengenal-Nya melalui Injil, bercakap dan mendengarkan-Nya dalam doa, dan menerima hidup-Nya dalam Ekaristi. Dengan setia dalam perjumpaan-perjumpaan sederhana inilah kasih kami kepada Yesus bertumbuh dari hari ke hari.
Sesudah itu, barulah datang perutusan. Setiap murid adalah juga seorang utusan. Kami diutus untuk membawa Nama Yesus ke dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat kami. Kami mewartakan bukan diri kami sendiri, melainkan kerahiman-Nya: kerahiman yang lebih kuat dari dosa, lebih besar dari ketakutan,
dan lebih berkuasa dari segala dusta si jahat.
Namun, seperti Daud dan seperti para Rasul, panggilan ini menuntut pilihan yang tegas. Meninggalkan yang bukan berasal dari Allah. Menyebut dosa sebagai dosa. Menolak kebingungan dan kompromi. Memilih kekudusan; bukan sebagai kesempurnaan tanpa cela, melainkan sebagai hati yang terus kembali kepada-Nya.
Bapa, Injil menyebutkan nama-nama Kedua Belas Rasul. Namun yang lebih penting daripada menghafal nama mereka adalah menyadari, bahwa Engkau juga memanggil nama kami. Bukan penonton Injil, melainkan kami diundang untuk masuk ke dalamnya. Melalui baptisan, kami dijadikan saksi hidup yang melanjutkan karya keselamatan-Mu di dunia.
Maka kami bertanya dengan jujur pada diri kami sendiri: “Apakah aku sungguh hidup sebagai orang yang dipanggil? Apakah aku memilih untuk tinggal bersama Yesus? Apakah aku melayani dengan kasih, keberanian, dan kerahiman?”
Bapa, ampunilah dosa dan kelalaian kami. Semua itu kami mempersembahkan kepada-Mu: kelemahan, kemiskinan rohani, dan kegagalan kami. Terimalah semuanya itu, dan oleh kerahiman-Mu, ubah jadi sarana bagi perutusan-Mu dalam hidup kami (Buku Harian Sant Faustina, no. 1318). Kami menyerahkan hidup kami kembali ke dalam tangan-Mu.
Dimuliakanlah Engkau dalam diri kami.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

