“If you have the power to make someone happy, just do it.” – Rio, Scj
Hai para pelayan Tuhan, aktivis, pengurus gereja, dan umat Tuhan. Jika kita hanya menyembah Tuhan di hari Minggu, maka kita bukan penyembah sejati. Melainkan seorang penyembah seminggu sekali. Di mimbar paling jago menyembah Tuhan, tapi Senin sampai Sabtu kembali hidup di dalam dosa dan kesalahan.
Paling cepat tersentuh firman Tuhan, bahkan sampai menangis, ketika menyembah Tuhan di gereja, tapi Senin sampai Sabtu membuat hati Tuhan menangis. Senin sampai Sabtu bicara kejelekan orang dan mencari-cari kesalahan, membunuh karakter sesama dengan tutur kata dan tindakan. Di gereja jadi orang murah senyum dan ramah, tapi ke luar dari gereja, di tempat parkir marah-marah.
Di gereja paling jago menyebut diri sebagai hamba, tapi di luar gereja jadi orang gelap oleh harta. Kita bicara kemuliaan hanya bagi Tuhan, tapi seusai dari gereja kirim posting agar memperoleh pujian. Kita tidak senang melihat postingan sesama, dan nyinyir dengan komentar yang merendahkan.
Di gereja selalu bicara, bahwa Tuhan adalah segalanya. Tapi giliran pelayanan tidak dapat persembahan kasih, pelayanan itu lalu digeser jadi prioritas kedua, dan ketiga.
Sering kali kasih kita kepada Tuhan itu palsu. Iman pada Tuhan setengah-setengah. Akhirnya hidup sering salah arah. Satu kaki ke arah Tuhan, kaki yang lain meninggalkan Tuhan. Karena itu fokus pada Tuhan bukan pada pelayan. Dengarkan dan lakukan yang baik dari kehendak-Nya, tidak sisi egois pelayan. Pelayan itu juga manusia, yang tetap bisa berbuat salah dan dosa.
Persembahkan hidup yang kudus dan berkenan pada Tuhan itu tidak sebatas kolekte uang ratusan ribu. Mencintai Tuhan, tanpa mengasihi sesama itu juga sia-sia. Kasih kepada Tuhan itu dengan kesungguhan hati, bukan penuh kepalsuan. Ingat berkat Tuhan bukan untuk kita saja, tapi dibagi untuk sesama. Baik dan benar tidak hanya untuk kita, tapi kebenaran Tuhan untuk semua. Sadari, bahwa kita ini tidak sempurna. Sering berbuat salah dan dosa. Gereja dan Surga tidak untuk kita semata, tapi disediakan untuk semua. Karena itu berjalanlah bersama sesama untuk saling mengasihi satu dengan yang lain.
Ingat kalimat sederhana ini, “Membalas kebaikan dengan kejahatan, berarti setan ada dalam diri kita. Membalas kejahatan dengan kebaikan, Tuhan tinggal dalam diri kita. Membalas kebaikan dengan kebaikan itu tidak ada bedanya dengan orang jahat dan kebanyakan orang. Mencintai seperti Tuhan mencintai kita itulah kesempurnaan hidup.”
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

