Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku selalu mau mengerjakan sesuatu yang sulit, dengan cara itulah aku ternyata bisa.”
(Pablo Picasso)
….
| Red-Joss.com | Tidak sedikit dari para pelamar kerja yang mengernyitkan kening, ketika Direktur perusahaan itu mengatakan, “Bahwa di perusahaannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sulit.”
Saya juga teringat akan jawaban para murid, saat ditanya, “Mengapa kamu belum mengumpulkan PR?”
“Karena sangat sulit, Pak.”
Begitukah kenyataan yang sering kita hadapi? Kenyataannya dan umumnya, banyak orang menghindari pekerjaan yang sulit dilakukan. Apakah memang pekerjaan itu riil sangat sulit atau justru lebih mengarah ke faktor mentalitas manusia yang memang doyan akan hal mudah?
Apakah hal ini justru erat berkaitan dengan proses budaya serta pendekatan pendidikan kita yang suka pada pekerjaan berdasi dan terkesan santai? Di mana letak inti permasalahannya?
Profesor Ronald E. Osborn, ilmuwan AS, berujar, “Kerjakan sesuatu yang sulit, itu sangat baik. Jika kita mengerjakan sesuatu yang telah dikuasai, maka kita tidak akan pernah berkembang.”
Jawaban telak sang profesor itu benar. Faktanya, kebiasaan warga masyarakat kita yang hanya menyukai hal-hal yang mudah. Sehingga lambat laun justru akan membentuk ‘karakter bermental kerupuk’. Bagaimana kita akan menjadi bangsa kuat dan perkasa, jika generasi muda kita, justru dididik untuk bersikap cengeng dan rapuh lewat cara-cara yang gampang. Sebuah generasi serba instan?
Bukankah sang pelaut perkasa, justru ditempa lewat ganasnya hempasan gelombang samudra menghadang? Bukankah, sepotong emas pun diuji dan dimurnikan lewat suhu api panas?
Adalah mantan presiden AS, almarhum John F. Kennedy, dalam pidatonya pada 12 September 1962, “Kita memang menghadapi banyak rintangan dan tantangan. Tapi, kita tetap bertekad, untuk pergi ke bulan dalam dekade ini. Walau hal ini, bukanlah suatu yang mudah, tapi justru karena ini hal yang tersulit.” Buktinya, bulan Juli 1969, Neil Amstrong, berjalan di planet bulan.
Perpaduan harmonis antara tekad yang tulus, keberanian sejati, dan konsistensi itu akhirnya mampu memudahkan kita mencapai suatu yang sulit.
Kita perlu ditantang, agar syaraf-syataf motorik itu dirangsang agar kita termotivasi untuk bergerak maju. Berinovasi dan berkreasi tanpa henti untuk membuka lembaran sejarah baru.
Semoga, warga masyarakat kita pun rela memperbesar kapasitas kerjanya dengan mengoptimalkan potensi serta kemampuannya.
“Sesungguhnya, di atas bumi maya ini, tidak ada pekerjaan yang tak dapat diselesaikan. Yang ada adalah hanya orang yang tidak mau dan malas melakukannya.”
…
Kediri, 16 Juni 2023

