Jika disuruh memilih, sebagai karyawan tetap atau karyawan kontrak?
Kita semua pilih karyawan tetap. Gaji bulanan pasti, uang kerajinan, bonus, bahkan jenjang karir juga menanti.
Anehnya, Nyong lebih senang pilih sebagai pekerja kontrak!
Lho?!
Mau mencemooh? Silakan!
Menghujat? Tak masalah!
Orang paling bodoh sedunia? Barangkali. Banyak teman mengatakan Nyong ini gila, karena hidup dalam ketidakpastian kerja dan masa depan.
Sebaliknya, Nyong menangkis tuduhan di atas tanpa emosi.
Sebenarnya siapa yang gila bin ubnormal? Toh Nyong tidak merugikan orang lain. Status karyawan tetap sering kali membuat orang terlena dalam kenyamanan. Tidak jarang yang sekadar asal bekerja minus tanggung jawab.
Sebagai pekerja kontrak, Nyong termotivasi untuk bekerja sebaik-baiknya, disiplin, & dedikasi. Ada bos atau tidak, banyak kerjaan atau sedikit, Nyong tetap komitmen untuk tidak mengecewakan bos yang mempekerjakan Nyong.
Bukan maksud untuk mengambil hati bos, tapi kesadaran diri karena dipercaya. Tuduhan minir teman atas kerajinan & ringan tangan Nyong, tak pernah Nyong gubris karena tak ada gunanya dan hanya buang energi minus produktivitas.
Nyong juga berpikir, meski kita telah bekerja dengan baik, bos sering kali nyacat, ngomel, bahkan menyalahkan. Bekerja seperti tak ada benarnya. Terlebih lagi, jika kita salah. Bos juga dengan mudah untuk memecat kita.
Tidak sedikit pula, kepercayaan orang yang baik terhadap kita sering kali kita manfaatkan untuk hal yang negatif.
Komitmen untuk menjaga nama baik itulah Nyong lebih senang dengan status pekerja kontrak.
Pekerja kontrak?
Ya, seperti halnya jiwa kita yang kontrak kepada tubuh. Bagaimana reaksi jiwa, ketika melihat tubuh sendiri yang kotor, bernanah, dan berpenyakitan? Apakah kita juga cuwek, masa bodoh, dan tanpa beban?
Jangan salahkan, jika orang lain jijik melihat kita, bahkan menjauhi karena tubuh kita dekil dan bau.
Jika kita tidak punya rasa malu, berarti kita juga tidak bertanggung jawab pada diri sendiri. Kita menyia-nyiakan tubuh yang adalah ciptaan Tuhan. Tubuh yang sekadar dipinjamkan!
Kita kudu menjaga tubuh agar tetap sehat, sebagaimana jiwa menjaga kesuciannya dari dosa.
Didasari sebagai pekerja kontrak, Nyong bekerja dengan baik, karena Nyong merasa memiliki dan bertanggung jawab dengan kemajuan perusahaan.
Begitu pula dengan jiwa ini… yang harus kita pertanggung-jawabkan pada Allah Yang Maha Pencipta. Dengan membiasakan displin menabung kebaikan, kita pun selalu siap jika harus meninggalkan tubuh yang kita kontrak untuk kembali kepada Sang Pencipta. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

