“Jangan mengumbar janji agar tidak malu sendiri. Lebih bijak kita menghidupi dengan tindakan nyata dan bukti.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Janji itu beban, dan dibawa hingga mati. Alangkah bijak, jika niat baik dan tekad yang kuat itu diwujudkan secara nyata.
Berhati-hati, jika berucap janji, baik kepada Tuhan, sesama, atau diri sendiri.
Janji yang diingkari itu permalukan diri sendiri. Dengan Tuhan berarti dosa. Lebih bijak, jika hidup kita dinafasi doa, tekun berjuang untuk peningkatan diri, dan memberikan yang terbaik dalam menyongsong masa depan yang cerah.
Janji dengan sesama yang diingkari itu permalukan diri sendiri dan aib. Janji dengan diri sendiri yang dilanggar itu berarti kita tidak komitmen, dan hutang itu harus dilunasi.
Lebih daripada itu, janji yang dilanggar sendiri itu menunjukkan kualitas hidup kita. Tidak bisa dipercaya, alias ‘nggedabrus’.
Apa jadinya, jika mereka hilang kepercayaan pada kita?
Padahal, membangun kepercayaan itu sepanjang hidup. Sekali berbuat salah dan melanggar janji, maka fondasi bangunan kepercayaan itu bakal runtuh. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Jika kita terlanjur berjanji dengan teman, misalnya. Catat janji itu di agenda, hp, atau ditempel di tempat yang mudah dilihat. Bisa juga kita minta tolong diingatkan teman agar tidak lupa.
Sebelum membuat janji, alangkah bijak, jika kita berpikir jernih dengan hati yang bening. Kita renungkan makna dan tujuan dari janji itu. Juga kesanggupan kita mewujudkannya.
Jangan biasakan membuat janji, jika tidak miliki komitmen, disiplin, dan keteguhan hati untuk menepati.
Jika diminta berjanji demi kebaikan bersama, sikapi dengan rendah hati dan andalkan kebaikan Tuhan agar kita komitmen, taat, dan setia untuk teguh memegang janji itu.
Merpati itu tak pernah ingkar janji, karena setia. Bagaimana dengan kita?
…
Mas Redjo

