| Red-Joss.com | Bersikap tanggap atau wanuh mengandaikan adanya kepekaan dan perhatian terhadap kebutuhan (problem untuk diselesaikan dan keinginan untuk dipenuhi) dari mereka yang butuh bantuan atau mereka yang secara resmi (karena jabatan atau penugasan) menjadi tanggung jawab kita untuk melayaninya. Bisa dalam ranah bisnis, lingkup pendidikan, sosial masyarakat atau lingkup sosial keagamaan, seperti lingkungan dalam paroki.
Mengenali kebutuhan orang lain mungkin menjadi langkah tersulit, tapi penting untuk dilakukan sebab akan menunjukkan kadar atau mutu kepedulian kita dalam melayani sesama. Semakin mampu mengenali kebutuhan orang lain, semakin tepat – akurat kita melayani mereka.
Dalam budaya Jawa ada dua tembung yang saling terkait: ‘wareg – waras’. Keduanya adalah gambaran keseimbangan dalam hidup manusia. ‘Wareg’ yang artinya kenyang, membuat seseorang menjadi ‘waras’, sehat jiwa raganya. Kalau ‘wareg – waras’ ditambah ‘wanuh’ (kata yang saya tambahkan yang artinya peduli) maka maknanya jadi begini : ‘kepedulian akan muncul seiring dengan terpenuhinya unsur wareg dan waras’.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan, bahwa ‘Ora ana karung kosong sing bisa ngadeg jejeg’. Artinya, mana bisa orang lapar diajak berpikir, bekerja, ataupun memikirkan orang lain. Walau tak 100% benar, kondisi yang belum ‘wareg’ (kebutuhan dasar) memang berimbas pada sikap ‘wanuh’ seseorang.
Bagaimana, jika ada orang yang tidak pernah merasa wareg? Bagaimana jika ada yang sudah wareg tetapi tidak wanuh (peduli)?
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan tidak ada sebab, nyatanya fenomena tak mau wanuh alias ‘embuh’ makin menguat. Dalam batas tertentu mungkin kita satu dari gejala itu. Meminjam istilah Seven Habits, disposisi kita mungkin bersikap reaktif daripada proaktif. Jika demikian halnya, itulah tanda, bahwa kadar kepedulian kita dalam kondisi waspada.
“Aku adalah air dari surga. Yang minum dari pada-Ku tidak akan haus lagi,” pesan-Nya.
Tetap berbagi cahaya kendati kurang benderang.
…
Jlitheng

