| Red-Joss.com | Zaman sekarang ini, kita dapat dengan mudah merasakan yang namanya ‘krisis orang baik’. Kita seakan tidak tahu lagi dan sulit untuk memilih mana yang sungguh baik, mana yang tampilannya baik. Peduli sebagai salah satu karakter orang yang baik jarang lagi tampil lugas – apa adanya. Peduli sedang menggendong aneka motif yang membingungkan.
Drama saling mencerca dan menghina, melukai hati dan mencederai harga diri, tiap hari dipertontonkan di media sosial. Dengan akibat terbelahlah persaudaraan, karena rasa peduli yang tidak berbasiskan kebenaran sejati. Lebih karena ingin membela kawan atau kelompoknya sebagai yang baik, dari sisi pandangnya, tentu saja
Dalam cuaca absurd seperti itu, ketika prinsip berubah lentur, ketika keteladanan seperti lenyap dan teguh hati tak lagi pasti, … , jika kita ingin tetap menjadi pribadi yang peduli, lebih dari yang telah kita bincangkan selama ini, kita wajib punya keterikatan dengan Tuhan, erat berpegang pada Firman-Nya, penunjuk jalan utama. (Mz 119:105) “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Bagi seorang Hamba Tuhan, peduli sesama adalah ciri khas dirinya.
Saat orang lain cuek dan berlomba memikirkan dirinya sendiri, seorang hamba Tuhan peduli sesamanya dan tidak ragu memasang badan untuk mereka. Karena seorang hamba tahu bagaimana rasanya sendirian dengan tidak ada satu pun orang yang membantu, makanya seorang hamba tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.
Bagi seorang hamba Tuhan, berbahagia bersama orang lain adalah kebahagiaannya.
Karena seorang hamba adalah orang sederhana, maka dia akan berbahagia hanya karena melihat orang lain bahagia. Sesederhana seorang anak yang berhasil mendapatkan apa yang dia, inginkan, sebagai hamba, kita bahagia untuk mereka, yang kita layani.
Anda pasti adalah seorang hamba itu. Atau, setidaknya sedang meraihnya. Saya bersedia berjalan bersama Anda, sebagai sahabat, yang rela berbagi cahaya, sampai tak lagi bernyala.
Senang berbagi cahaya, sampai padam nyalanya.
…
Jlitheng
…
Foto ilystrasi: Istimewa

