“Membangun jiwa kepedulian anak sejak dini agar kelak ia jadi pejuang perubahan untuk memanusiawikan sesamanya.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Karena hati ini dicerahkan kasih karunia Allah, saya sungguh sadar-sesadarnya, membangun budaya ‘tata krama’ dan kepedulian pada sesama itu harus dimulai sejak dini, dan tanpa kompromi.
Dasarnya adalah, saya prihatin-seprihatinnya, karena dampak kemajuan teknologi, jika tidak disikapi dengan bijaksana bakal meracuni hati dan keluarga sendiri.
Saya prihatin dan miris melihat dahsyatnya pengaruh hp pada anak, hingga banyak anak yang kecanduan. Karena orangtua sibuk dengan diri sendiri. Anak diumbar, tidak mempunyai tata krama, dan bahkan berperilaku tidak hormat pada orang yang lebih tua.
Saya terinspirasi dan termotivasi dengan cara Kakak dalam mendidik anak-anaknya agar mandiri dan berjiwa peduli pada sesama.
Yang menarik dari cara mendidik anak adalah, Kakak tidak memberi kemudahan pada anak. Alasannya, kemudahan itu membuat anak jadi malas. Tapi mengajari anak dalam menyelesaikan masalah membuat anak jadi tangguh dan mandiri.
Jika anak menginginkan sesuatu barang, ia diminta menabung dulu. Tujuannya agar anak merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk manjaga barang itu supaya awet.
Ketika anak ingin membantu teman atau orang lain, Kakak mengajari anak untuk menyisihkan dari uang jajannya. Semangat kepedulian yang dimunculkan dari hati.
“Apa pun ilmu yang mau dipelajari itu mudah, ketimbang membangun budaya tertib dan tata krama,” kata Kakak memberi alasan.
Kekagetan saya yang lain adalah, setelah bekerja, keponakan saya itu membiayai kursus ketrampilan pada adik sepupunya. Bahkan sebagian gaji yang diterimanya itu disumbangkan ke yayasan anak yatim piatu.
“Kebiasaan baik itu didisplinkan dan dihidupi agar menularkan energi positif dan memotivasi yang lain,” tegas Kakak. Ia juga tidak takut, suatu saat anak-anaknya terpengaruh oleh lingkungan yang buruk, karena fondasi keimanannya juga kuat.
Ketika anak tunggalku diterima di perguruan tinggi negeri di kota S, saya dan istri sepakat agar anakku tinggal bersama Pakdhenya. Alasan saya, karena saya pernah ‘ngenger’ ikut Kakak dan ditempa untuk mandiri, sebelum saya diterima bekerja di kota J.
“Kau temani Budhe Pakdhe sebagai pengganti orangtuamu. Mereka tinggak berdua dan pasti senang, karena Mbak dan Masmu tinggal di luar kota,” kata saya meyakinkan anak.
Saya sangat optimis, di bawah gemblengan Kakak, anak saya bakal makin bertumbuh jadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
Mas Redjo

