“Kompak, guyup, gayeng, dan menginspirasi itu adalah apresiasi dari lubuk hati ini melihat umat yang bahu membahu bebersih Gereja.”
Semula saya bermaksud ke rumah sahabat AW di bilangan GS. Karena AW sedang bebersih Gereja, yang bakal dilalui, saya diminta mampir untuk menyerahkan berkas laporan yang dibutuhkannya, dan itu lebih dekat.
Menurut AW, bebersih total Gereja itu biasanya dilakukan menjelang perayaan hari besar Paskah dan Natal, serta melibatkan seluruh perwakilan umat wilayah. Karena tidak mungkin 2-3 koster mampu mrantasi semua itu.
Saya sungguh mengapresiasi tinggi dengan kekompakan, keguyupan, dan semangat kesatuan umat yang bebersih Gereja. Mereka peduli, karena merasa memiliki, dan bahu membahu agar Gereja jadi bersih, rapi, indah, serta nyaman untuk ibadah.
Saya yang melihat mereka kompak bekerja dengan sukacita itu jadi malu hati. AW yang bendahara Gereja itu menyingsingkan lengan baju untuk mengepel selasar bersama beberapa Bapak yang lain, ada pula yang membersihkan sawang di jendela dan langit-langit. Sedang Ibu-ibu menyapu serta melap kursi dan bangku-bangku.
Saya malu dengan kerendahan hati AW. Meski pengurus inti Gereja dan termasuk seorang Bos dari grup perusahaan tempat saya bekerja, tapi penampilan AW bersahaja, dan tidak ngebos.
Bagi AW, keteladanan itu adalah jiwa semangat melayani dari hati. Tidak lewat penampilan dan pandai berkata-kata indah agar dipuji atau dihormati. Tapi melakukan semua itu dalam diam dan senyap. Karena Allah melihat hati.
AW menunjukkan bukti, untuk jadi yang terbesar itu dengan melayani, dan berakar dari pengajaran Yesus: bahwa kebesaran sejati itu diukur dari kerendahan hati dan kesediaan jadi pelayan bagi sesama, tidak melalui kekuasaan atau dominasi.
“Barangsiapa ingin jadi besar itu harus jadi pelayan (diakonos), dan jadi terkemuka itu harus jadi hamba” (Matius 20: 26-28).
Mas Redjo

