“Melihat peristiwa miris, dan kita sekadar prihatin itu tidak cukup. Kita harus berbuat kasih, karena peduli.” -Mas Redjo
…
Untuk yang kesekian kali peristiwa mengenaskan itu terjadi. Di Trangkil Pati, seorang remaja yang ketahuan mencuri pisang untuk memberi makan adiknya itu diarak dan jadi tontonan warga. Tragis dan miris!
Sampai kapan pembiaran peristiwa itu terus berlangsung dan terjadi?
Saatnya kita semua mawas diri. Kita tidak harus mencari kesalahan atau menyalahkan orang lain. Sejatinya, kita mempunyai andil dan bertanggung jawab atas peristiwa itu.
Ketika kita kehilangan rasa peduli, empati, dan bahkan dibutakan nurani sendiri. Kita jadi tidak acuh, abai, dan bersikap masa bodoh terhadap orang lain. Kita pun makin individualis dan egois!
Coba direnungkan. Jika pelaku yang diarak jadi tontonan warga itu adalah anggota keluarga, atau bahkan diri kita sendiri.
Mengapa tragedi nan miris itu harus terjadi berulang kali?
Padahal kita mengaku sebagai makhluk sosial. Tidak seharusnya
kita kehilangan kepedulian, tepa seliro, dan semangat gotong royong yang diwariskan leluhur kita.
Ingat, tanpa miliki semangat gotong royong untuk saling membantu satu dengan yang lain kita jadi lemah dan mudah dikalahkan oleh kepentingan jahat.
Jika kita tidak ingin melihat tragedi kemanusian nan miris itu berulang kembali, saatnya kita berbuat kasih, karena peduli.
Buka mata dengan peka dan jeli. Lihat orang di sekitar kita yang kurang beruntung dan membutuhkan pertolongan itu. Kita tidak harus bertele-tele melaporkan dan menunggu lama bantuan dari pihak berwenang itu cair. Sebagai tetangga kita harus peduli, tanggap, dan bergerak cepat berbuat kasih, sebelum tragedi buruk itu terjadi.
Sejatinya orang miskin, lapar, dan terlunta itu adalah tanggung jawab kita juga.
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Tuhan” (Amsal 14: 31).
…
Mas Redjo

