Dalam sebuah seruan kepada kaum muda yang diterbitkan setelah kematiannya, Paus Fransiskus mendesak pasangan muda-mudi untuk mempersiapkan diri dengan baik untuk perkawinan dan berkomitmen pada “cinta yang bertahan seumur hidup.”
Surat tersebut, yang merupakan kata pengantar untuk buku “Love Forever” oleh YOUCAT Foundation, mendesak kaum muda yang memikirkan perkawinan berkaitan dengan “percaya pada cinta, percaya pada Allah, dan percaya, bahwa kamu mampu menjalani petualangan” perkawinan seumur hidup.
Dalam teks tersebut, Bapa Suci menggambarkan janji perkawinan tradisional sampai maut memisahkan kita sebagai janji yang luar biasa.
“Tentu saja, saya tidak buta, dan kamu juga tidak. Berapa banyak perkawinan saat ini yang gagal setelah tiga, lima, tujuh tahun?” tulis Paus dalam kata pengantarnya, yang diterbitkan oleh New York Times pada hari Senin, 28 April 2025.
Bertanya secara retoris, apakah akan lebih baik “menghindari rasa sakit, hanya menyentuh satu sama lain seolah-olah dalam tarian yang sedang berlalu, menikmati satu sama lain, bermain bersama, dan kemudian pergi.” Paus membalas mengatakan, bahwa cinta “sampai pemberitahuan lebih lanjut” itu bukanlah cinta.
“Kita manusia memiliki keinginan untuk diterima tanpa syarat, dan mereka yang tidak memiliki pengalaman ini sering kali — tanpa disadari — membawa luka selama sisa hidup mereka,” kata Paus Fransiskus. “Sebaliknya, mereka yang memasuki suatu ikatan tidak kehilangan apa pun, tetapi memperoleh segalanya: kehidupan yang sepenuhnya.”
Bapa Suci mencatat, bahwa ia telah mendesak Gereja untuk “membantumu membangun landasan bagi hubunganmu berdasarkan kasih setia Allah.” Ia menulis, bahwa ia ‘memimpikan’ sebuah program pembinaan perkawinan ala Katekumenat bagi Gereja, yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan akan “menyelamatkanmu dari kekecewaan, dari perkawinan yang tidak sah, atau tidak stabil.”
Mengacu materi pembinaan perkawinan YOUCAT sebagai panduan, Paus mengatakan, pasangan muda-mudi harus benar-benar berpartisipasi dalam kursus persiapan perkawinan.
“Sebelum menerima sakramen perkawinan, persiapan yang tepat itu sangat diperlukan,” tulis Paus.
“Kita tidak bisa terus seperti sebelumnya: Banyak yang hanya melihat ritual yang indah,” katanya. “Kemudian, setelah beberapa tahun, mereka berpisah. Iman hancur. Luka menganga. Sering kali ada anak-anak yang kehilangan Ayah atau Ibu.”
Membandingkan perkawinan dengan tari tango di negara asalnya Argentina, Paus Fransiskus mengatakan memperlakukan perkawinan dengan cara ini ‘seperti menari tango dengan buruk’.
“Tango adalah tarian yang harus dipelajari. Hal ini lebih berlaku lagi dalam hal perkawinan dan keluarga,” kata mendiang Paus.
Mengutip seruan apostoliknya sebelumnya Amoris Laetitia, Paus mengakhiri kata pengantarnya: “Dalam cinta kaum muda, tarian — selangkah demi selangkah, sebuah tarian menuju pengharapan dengan mata penuh keheranan — tidak boleh berhenti.”
Bapak Peter Suriadi

