Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[ Red-joss.com ] Mengapa sisi yang patah dan rapuh itu sering diungkap dalam kisah hidup manusia? Bahkan banyak di antara kita, ketika sisi yang patah dan rapuh itu yang disentil, kita cepat bereaksi dan emosi.
Ada orang yang biasanya bereaksi, “aku sungguh berdosa,” atau “aku sudah melakukan kesalahan besar,” tapi ada juga yang bereaksi, “aku sudah melakukan kebodohan yang besar,” dan banyak lagi.
Jika reaksi-reaksi itu yang terus-menerus disimpan, kita pasti akan semakin patah dan rapuh.
Mengapa?
Pondasi hidup beriman kita mulai goyah dan tidak kokoh lagi. Sebenarnya, kita mau mencoba untuk memulihkan yang patah dan rapuh itu, tapi kita tidak yakin, dan tidak percaya diri.
Belum lagi banyak lagu yang diciptakan liriknya penuh dengan cerita dari pribadi-pribadi yang patah dan rapuh. Sehingga kita jadi sentimentil, dan galau berjemaah.
Katanya sih yang komersial itu berkisah tentang yang patah dan rapuh.
Pertanyaannya: kapan kita bisa sembuh dari kepatahan dan kerapuhan ini?
Selalu merefleksikan hidup ini agar iman kita makin kuat dan kokoh
Selalu andalkan Allah, karena hidup kita adalah saluran berkat-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

