Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Akhirnya kita bertanya,
kalau sudah begini,
siapa yang menghakimi
hakim?”
(Dari Suara Kebenaran)
Antara: Homo Homini Lupus dan Homo Homini Socius”
Filsuf Thomas Hobbes pernah menggunakan adagium Latin “Homo homini lupus est” yang artinya, “Manusia dapat jadi serigala bagi sesamanya.” Dalam hal ini, sang filsuf justru mau mendeskripsikan tentang sebuah realitas pahit dan kejamnya relasi yang tidak selalu harmonis antar sesama manusia.
Dalam konteks ini, beliau justru mampu menangkap adanya sebuah sinyal, bahwa acapkali, si arifin juga memiliki sifat predator, karena dia dapat bertindak asosial.
Di balik sebuah fakta yang menantang ini, beliau justru mau menyodorkan sebuah relasi paling ideal lewat adagium “Homo homini socius est,” yang artinya “Manusia sebagai sesama bagi yang lain.” Inilah sebuah realitas menantang tentang bagaimana, beratnya perjuangan manusia untuk menata kembali alur hidupnya.
Paradoks ‘Wakil Tuhan’
Dalam sistem hukum, hakim kerap dijuluki sebagai ‘Wakil Tuhan’ di muka bumi. Julukan ini bukan sebuah majas hiperbola, melainkan cerminan, betapa sakral posisi dan tanggung jawab seorang hakim dalam menegakkan keadilan. Ketika hakim justru menjadi pelaku utama korupsi, ia berubah menjadi ironi hidup, karena wakil Tuhan yang menggadaikan moralitas pada kepentingan duniawi. Demikian isi paragraf ketiga dari ‘Surat kepada Redaksi’ berjudul, “Paradoks Wakil Tuhan,” oleh Nicholas Martua Siagian, Tebet, Jakarta Selatan. Kompas, Kamis, (17/4/2025).
Dua Pertanyaan Retoris
(1) “Apa memang tidak ada lagi yang bisa dipercaya di Republik ini?”
(2) Akhirnya, kita bertanya: “Kalau sudah begini, siapa yang menghakimi hakim?”
Menilik pada aspek makna dan kata-kata yang digunakan di dalam kedua buah pertanyaan retoris ini, saya berusaha untuk menarik seutas benang merah, bahwa adanya keraguan dan sikap kecewa masyarakat kita akan realitas degradasi manusia di seantero negeri nan jelita ini.
Seperti yang tertulis di dalam paragraf ke-4, bahwa korupsi di tubuh peradilan bukan lagi sekadar soal korupsi biasa, ini adalah penyakit kronis sistem kita yang ‘diorkestrasi’ penjahat kerah putih. Apalagi, jika pelakunya adalah pejabat lembaga peradilan tingkat strategis, seperti PN Jakarta Selatan, salah satu pengadilan yang kerap menangani kasus-kasus kelas kakap. Dari berbagai kasus yang terjadi, akhirnya semakin memperjelas, bahwa bukan hanya hakim yang korup, melainkan juga yang perlu ditelisik potensi mafia peradilan yang menyokong praktik ini dari balik layar.
Sebuah Negeri Hitam
Setelah menilik dengan saksama isi dari Opini, Surat kepada Redaksi ini, saya merasa dan berkesimpulan, bahwa sungguh, betapa gelap serta suramnya masa depan dari negeri besar ini. Kita seolah-olah sedang menghadapi sebuah tembok raksasa nan hitam mengelam. Juga seolah-olah ada sebuah jalan buntu yang menghadang dan menghalangi mata hati kita. Kita juga sedang terseok dan terperangkap di dalam sebuah lingkaran setan.
Apa Solusi Cerdas Kita
Mari kita kembali ke dalam gubug kecil nurani kita. Masuki ke kedalamannya dan bertanyalah, “Tuhan, dari manakah datangnya malapetaka mahadasyat ini?”
Apakah sebuah negeri elok nan jelita ini, ternyata hanyalah sebuah sumber bencana dan malapetaka?
Bingga kapankah lilitan ekor Iblis laknat yang erat merelungi tubuh bangsa ini?
(In cauda venenum est)
Di ekor kehidupan ini,
memang ada racun.
Kediri, 19 April 2025

