Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apakah gosip itu benar isinya. Apakah baik, jika gosip itu diketahui oleh orang banyak.
Sungguh pentingkah gosip itu diketahui oleh orang banyak?”
(Didaktika Hidup Sadar)
Tabiat Licik si Gosip
“Gosipmu,” itu akan terbang bagaikan seekor burung dari mulut ke mulut. Kelak ia segera menyinggahi lubang telingamu, lalu akan menerobos masuk ke dalam hatimu. Maka, sering kali orang menamakan gosip itu alias kabar burung.
Licik dan lihainya isi sebuah gosip, justru karena ia tidak dapat dipertanggungjawabkan hal kebenarannya. Itu merupakan sebuah isu atau hanya kabar burung semata.
Rumusan ala Socrates antara: Benar, Baik, dan Penting
Suatu hari, seseorang mendatangi filsuf Socrates si arifin itu dan berkata, “Tuan, dengarkanlah gosip tentang sahabatmu ini.”
“Oh, tunggu! Apakah gosip itu sudah melewati tiga buah saringan?”
“Tuan, apakah maksud dari ketiga saringan itu?”
“Karena segala sesuatu baru dapat dianggap layak dan pantas untuk didengar dan diketahui, hanya setelah melewati ketiga buah saringan ini.”
“Ya, saringan pertama adalah hal ‘kebenaran.’ Artinya, apakah hal yang digosipkan itu tentang sebuah kebenaran?
” Tapi, Tuan, maaf, karena gosip itu saya mendengar dari orang atau pihak kedua.”
“Oh ya,” jawab Socrates. “Jika memang demikian, apakah gosip itu bisa lolos saringan yang kedua. Apakah sesuatu yang kau gosipkan itu memang sesuatu yang baik?”
“Tidak Tuan, justru sebaliknya,” jawab orang itu.
“Ya, maka engkau pun perlu berhati-hati. Menurutmu, apakah gosip itu perlu dan penting untuk diketahui orang banyak?”
“Oh ya, sama sekali tidak penting, Tuan.”
“Baiklah, jika memang gosip itu ‘tidak benar, tidak baik, dan juga tidak penting,’ maka ya, biarkan saja si gosip itu segera berlalu,” sahut Socrates.
(Christofer Notes)
Didaktika Kearifan Hidup
Sungguh sangat memesonakan hati, isi pengajaran dari filsuf Socrates, hal ketiga buah atau tiga tahapan saringan itu. Mengapa? Selama hidup kita ini, belum pernah kita menerima isi pengajaran yang sangat penting ini.
Dampak bagi Hidup
Di sisi lain, kepada kita diajarkan agar tidak segera menyebarkan sebuah berita yang tidak sungguh kita pahami isinya. Bahkan akan lebih riskan lagi, jika kita menggosipkan sesuatu yang hanya didengar dari pihak kedua.
Dalam konteks ini, secara moral serta spiritual, jika kita sudah menggosipkan sesuatu, maka sejatinya kita telah bersalah kepada sesama manusia.
Marilah kita mulai membudayakan hidup sadar dengan membuang jauh-jauh kebiasaan bergosip!
Kediri, 14 Mei 2025

