Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup itu tak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dengan telapak tangan kita dapat mengubah hidup menjadi lebih baik lagi.”
(Peribahasa)
| Red-Joss.com | Papan atas, alias ‘top board’. Membaca frase idiom ini, pikiran kita spontan terarah kepada sebuah pemahaman, kelas utama atau kelas tertinggi. Kasta teratas.
Ada warga masyarakat yang bersikap sinis terhadap kiasan ini. “Ah, tidak ada kelas-kelas di dalam hidup ini. Semua sama, sebagai manusia ciptaan Tuhan.” Ada juga ucapan berupa guyonan, “Ah, sejak kapan kita ini digolongkan ke dalam kasta-kasta.”
Faktanya, masyarakat kita memiliki tradisi mengelompok ke dalam tiga kategori. Ada kelompok manusia papan atas, papan tengah, dan juga papan bawah. Kita sering mendengar hal itu di dalam dunia peratisan. Ada artis top alias artis papan atas dan juga ada artis kacangan, alias artis papan bawah.
Itulah dunia kita dengan lika-liku cara berpikirnya. Memilih dan memilah manusia berdasarkan keunggulan tertentu. Prestasi dan ketenaran menjadi tolok ukurnya. Hal ini, sudah diterima oleh masyarakat luas.
Bagiamana pandangan dan sikap kita akan hal ini? Biasanya, masyarakat kita pun akan menerimanya begitu saja, entah disepakati atau pun ditolak.
Mari kita hidup dan melayani dengan penuh kesadaran dan ketulusan, demi meningkatkan kualitas layanan kita kepada sesama.
Kita hidup dan berjuang, tidak demi meraih predikat, ‘manusia papan atas’, tapi sebagai hamba Tuhan. Serviam!
Fiat Foluntas Tua!
Kediri, 17 Juli 2023
foto ilustrasi: Istimewa

