| Red-Joss.com | Ada umat yang terpanggil untuk melayani Gereja lewat panggilan Imamat. Ada juga yang dipanggil Tuhan lewat panggilan hidup berkeluarga. Kedua panggilan itu didasari dengan sakramen-sakramen yang telah diterima. Itulah hadiah besar yang diberikan oleh Gereja agar dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Ada berbagai macam bentuk pelayanan. Semua pelayanan itu menyatu dalam perayaan yang indah, yakni Ekaristi Kudus yang jadi pusat hidup Kristiani dan amat membanggakan itu. Setiap kali kita merayakannya, selalu ada kesegaran yang baru untuk hidup kita. Karena tanpa Ekaristi Kudus, hidup kita tidak bergairah, lesu, dan bisa ‘mati’.
Ada sukacita di hati, ketika kita bisa melayani. Sembari memberi contoh dan teladan bagi anak-anak kita. Sebaliknya, jika kita yang tua ini enggan untuk melayani, dari mana anak-anak itu bisa jadi pelayan yang baik. Melihat orangtuanya yang malas melayani, maka mereka juga ikut malas jadi seorang pelayan. Karena pelayanan itu seolah-olah membuang-buang waktu. Orangtua adalah contoh pertama dan yang utama bagi mereka untuk ambil bagian dalam pelayanan.
Ada kesatuan hati untuk melayani Tuhan. Biarkan kita yang ambil bagian dalam perayaan kekudusan, setiap dari kita dikuduskan oleh Sang Pengudus sendiri. Jika kita sudah dikuduskan, apakah kita tega untuk hidup tidak kudus lewat jalan panggilan kita masing-masing?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

