| Red-Joss.com | Di tengah dunia yang tidak baik-baik saja, orang Katolik diminta hidup baik. Dalam seruan Konsili Vatikan II : panggilan kesucian. Mungkinkah kita hidup baik di tengah dunia yang tidak baik? Mungkinkah kita suci di tengah lingkungan yang sama sekali tidak suci dan penuh intrik? Apa ukuran kesucian itu? Cukup rajin berdoa dan ke gereja?
Setiap Jumat Pertama pagi, jam 10.00 sampai selesai, berkumpullah ibu-ibu janda tua yang renta, disalah satu rumah umat, untuk sambut komuni kudus yang dibawa oleh prodiakon yang sudah renta pula. Diawali dengan mendengar Firman Tuhan dan doa, para janda renta itu disatukan dalam perasaan senasib yang diperhatikan dan dikuatkan oleh Sabda dan Tubuh Tuhan.
Pada hari yang berbeda, akan berkunjung seorang Bapak tua bersama istrinya yang sudah tua pula, ‘tilik’ dari rumah ke rumah para janda renta itu secara bergiliran, untuk sekadar bertanya ‘opo khabare. Sapaan sederhana dan kunjungan Bapak tua ini sanggup menyentuh dasar hati para janda sepuh itu dan mengalirlah damai sejati tanpa pamrih.
Cara sederhana yang dipertontonkan prodiakon tua dan Bapak tua itu adalah bentuk nyata dari menjadi murni dalam aksi. Artinya, hidup baik di dunia yang tidak baik-baik saja itu sangat mungkin.
Santo Yakobus dalam tulisannya mengatakan: Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Salam sehat dan tidak lelah menjadi tanda hadir-Nya Tuhan yang selalu peduli.
…
Jlitheng

